Siku Kata 

Bola Suci

Bola Suci
lustrasi. foto: salamadian.com

Bola kembali ke "tanah suci"nya dalam satu bulan ini. Copa America bergempita. Bola melambung-lambung di tanah suci (holy land), tepatnya di Brazil. 

Inilah ‘tanah suci’ bagi benda bundar yang melesat dan diperebutkan dalam ranah permainan (ludens)

Tak sebatas melambung, dia juga bergulir, meluru, terkadang juga melingkar dalam pola salto dan akrobatik. 

Latin America adalah ranah keindahan dalam narasi dan ‘kepercayaan bola’. Ya, semacam ‘teologi bola’. 

Bola bagi kaum Latin di benua merah ini bak replika planet yang menjadi mediator kepada Tuhan. Bak posisi ikonoklasme (patung, berhala dan lukisan dewa), bola menjadi ranah ‘pemujaan’ benda-benda seturut pandangan mata.

Ada satu sempalan kecil dari mazhab as-Sabiah yakni al-Hirnaniyah yang pertama kali memperkenalkan konsep ‘tanasukh’ (re-inkarnasi). 

Filsuf agung dari tanah Persia, AsySyahrastani menyisir secara halus tentang agama dan kepercayaan umat manusia sepanjang perjalanan peradaban kuno hingga modern.

Apa kaitannya dengan bola? Bagi kaum al Hirnaniyah, Tuhan menciptakan planet dan bintang-bintang di atas sana. 

Baca juga: Sihir

Dia bergerak dalam pola serba teratur. Amsal teofaniknya; “Tuhan adalah Ayah, benda adalah sang Bunda dan komposisi adalah Anak-anaknya”. 

Planet ini berpenampilan bulat (bundar) dalam sekilas pandang. Maujud yang jauh dan sayup secara kasat mata. Tetapi dia ada dan maujud (sebagai entitas). 

Prinsip dasar re-inkarnasi, berasal dari paham al Hirnaniyah, lalu disambut oleh ajaran-ajaran esoterik Timur (Hindu dan Buddha).

Yang dimaksud dengan re-inkarnasi (tanasukh) adalah peristiwa kelahiran yang berulang kali dalam periodesasi yang berlangsung secara terus-menerus. 

Sesuatu yang "meng-ada" pada satu periode akan lahir kembali pada periode selanjutnya (mungkin dalam wujud dan maujud yang berbeda tampilan dan penampangnya). 

Lalu, patung-patung yang mereka bikin diberi nama sesuai dengan fiil (sifat) planet. Cakra kuasanya disejajarkan dengan akal ruhani dan nama-nama planet. 

Di antara patung yang menjadi ‘sebab pertama’ adalah ‘patung akal’, lalu ‘patung politik, ‘patung nafs’ dan sejumlah lukisan.

Bola dalam ragam variasi (bola kaki, tennis, volley, basket, pingpong dll) bisa tersambung secara kreatif-imajinatif-mistika dengan kenyataan ‘patung-patung’ yang dijadikan sebagai (media) perantara dengan Tuhan. 

Di benua Latin sana, sedang berlangsung pertandingan (sepak) bola dalam kecerdasan profan dan akal spiritual. 

Memang tak segempita Liga Eropa. Namun, bola bagi kaum Latin yang miskin itu, menjadi media dodoi (lullaby), penebus kelukaan dan himpitan kemiskinan mendera. 

Bola bagi Latin America sekaligus pengorak rindu akan ‘juru selamat’ selejang perjalanan hari yang dihimpit oleh aniaya derita, ranah mencari kebenaran; penyeimbang dimensi ruhani yang kian berdebu oleh sentakan hidup yang ditindih oleh kuasa kapitalisme global yang mesin utamanya berada di utara kampung mereka (maksudnya USA).

Sekte ‘naturalisme’ dalam kepercayaan as Sabiah ini berkeyakinan bahwa; perantara (mediator) amat diperlukan dalam dialog dengan Tuhan (sang  Pencipta). Namun, syarat utamanya; perantara itu harus bisa dilihat secara kasat mata. 

Melalui perantara kasat mata inilah ibadah dilangsungkan, pun memetik manfaat. Bagi  penganut,  benda-benda dimaksud adalah benda-benda alam seperti planet yang tujuh. 

Oleh sebab itu, mereka berupaya sedaya mungkin mengenal manazil (ekliptika); saat terbit dan tenggelam, kesamaan dan perbedaan bentuknya; terbitnya hari, malam dan detak jam, serta pengaruhnya pada bentuk tubuh, watak, wilayah dan negeri.

Ikutannya, mereka membuat cincin dan gelang (semacam rosario), menukil mantera dan doa, menetapkan hari Sabtu sebagai hari Zuhal (Jupiter). 

Ritus berikutnya, mereka memuja dan berdoa kepada planet (bintang) Musytari atau Venus, demi memanen manfaat sastrawi tinggi dengan kaidah amsal penceritaan nan wangi (alam ibarat). 

Planet adalah makhluk rohani. Para penganutnya menghidang korban dan persembahan kepada planet-planet yang kemudian disalin bentuk-bentuknya menjadi benda-benda yang menyerupainya
(diantaranya adalah bola). 

Apa pun kejadian di muka bumi, selalu disandarkan atas reaksi planet-planet yang bertabur (rajuk, marah, diam, amuk, edar, kitar, pindah dan seterusnya).

Terkesan main-main? Ya, manusia menyelenggarakan sesuatu yang serius dalam sejumlah permainan, termasuk ‘ibadah’.

Bola mendapat tempat yang ranggi dan tinggi di Latin America. Di sini tak dihukum oleh kehendak pasar yang teramat heboh sebagaimana hebohnya penjudi, pialang, sponsor dan iklan, kompetisi siaran langsung di pasar Eropa (pertandingan yang sama; Bola). 

Bola ialah jelmaan benda nyata dalam fungsi ‘perantara’ yang menghubungkan diri dengan akal Ketuhanan bagi Latin. 

Maka, jangan aneh seorang Maradona, memanfaatkan sisi “teologia bola” dalam diksi ‘tangan Tuhan’ pada sebuah pertandingan yang menggugup bagi Argentina.

Planet sebagai komposisi, terkadang bisa dilihat, terkadang hilang (tenggelam kala siang). Untuk itulah manusia menjelmakan bentuk-bentuk benda nyata seperti patung, termasuk bola, sebagai pengganti kehilangan sementara maujud planet itu. 

Dengan begitu, mereka senantiasa bisa menyelenggarakan ‘ibadah’ dalam versi lain. Lambang atau lukisan itulah yang menjadi penghubung dengan alam planet sekaligus selaku perantara kepada malaikat yang selanjut terhubung dengan Tuhan. 

Bola yang menggelinding adalah sisi lain dari tampilan cincin dan gelang yang menjadi media penghubung ke alam planet-planet nan tujuh.

Imaji-kreatif-mistika berlanjut; planet Merkurius digambar persegi enam, Venus persegi panjang, Matahari persegi empat, Jupiter persegi empat yang di tengahnya terdapat inti segi empat ukuran kecil, bintang Saturnus segi tiga yang di tengahnya berinti segi empat kecil, dan Bulan segi delapan (ingat simbol Islam). Belum ternukil apa bentuk Uranus dan Mars...

Adakah bola mewakili bentuk di antara dua planet itu? Yang jelas, bola masuk dalam ‘susunan suci’ yang dilambung dan digulirkan sebentang lapangan rumput, walau kenyataannya tak lebih dari karet sintetis pembungkus angin. Ya, mereka menendang angin, lalu menuai spiritualitas dimensi lain? Entahlah...


 

Editor: Abdul Aziz