BPS mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 40,62 miliar dolar AS. Angka tersebut melonjak 18,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produk lemak dan minyak hewani/nabati yang di dalamnya mencakup komoditas sawit turut menjadi bagian dari perdagangan Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa komoditas pertanian, termasuk sawit, masih punya peluang besar di pasar global. 

Namun, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengingatkan Indonesia jangan sekadar mengejar volume ekspor.

Menurut Amran, kunci agar petani dan pekebun ikut merasakan dampak positif dari besarnya perdagangan sawit adalah memperkuat produktivitas sekaligus mendorong hilirisasi.

"Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar," ucap Amran.

Amran menilai peningkatan ekspor harus berjalan beriringan dengan penguatan sektor hulu dan hilir. Artinya, produktivitas tanaman di tingkat petani dan pekebun perlu digenjot, sementara hasilnya harus diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Langkah ini dinilai penting agar kenaikan nilai ekspor tidak hanya tercatat sebagai angka dalam neraca perdagangan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di sektor pertanian.

"Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong. Jadi dari hulu sampai hilir harus kuat," katanya.