Kita besar dalam jumlah. Tetapi belum cukup besar dalam persatuan. Kita kuat di kebun. Tetapi belum cukup kuat dalam kelembagaan.

Padahal orang tua-tua Melayu telah lama mengingatkan: “Seikat bak lidi, serumpun bak aur, sesusun bak sirih.”

Lidi yang sebatang mudah dipatahkan. Tetapi ketika terikat menjadi satu, ia menjadi kuat dan bermanfaat.

Begitu pula petani sawit. Jika berjalan sendiri-sendiri, kita akan terus menjadi penerima keadaan. Tetapi jika bersatu, kita dapat menjadi penentu masa depan.

Orang Bugis juga meninggalkan pesan yang sangat mulia: “Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge.”

Yang hanyut kita selamatkan bersama. Yang jatuh kita abangunkan bersama. Yang khilaf kita saling mengingatkan. Nilai inilah yang harus menjadi fondasi perjuangan petani sawit Indonesia.

Karena tidak ada petani yang akan kuat sendirian. Tidak ada koperasi yang akan besar sendirian. Dan tidak ada peradaban yang dibangun oleh orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri. Sudah saatnya petani sawit mulai berpikir lebih jauh daripada panen bulan ini.

Kita perlu memikirkan masa depan anak cucu kita. Kita perlu memikirkan bagaimana agar generasi berikutnya tidak hanya mewarisi kebun, tetapi juga mewarisi kekuatan ekonomi.

Di sinilah saya melihat pentingnya membangun Dana Abadi Sawit Rakyat.

Gagasannya sederhana. Setiap petani menyisihkan sebagian kecil hasil panennya. Mungkin hanya Rp10, Rp20, atau Rp50 dari setiap kilogram TBS yang dijual. Jumlah yang kecil bagi satu orang. Tetapi akan menjadi kekuatan yang luar biasa jika dilakukan oleh jutaan petani secara bersama-sama.

Jika dua juta petani menyisihkan rata-rata Rp100.000 setiap bulan, maka akan terkumpul sekitar Rp200 miliar setiap bulan. Dalam setahun mencapai Rp2,4 triliun. Dalam sepuluh tahun nilainya dapat mencapai puluhan triliun rupiah.

Itulah kekuatan gotong royong. Itulah kekuatan persatuan. Itulah kekuatan rakyat ketika memiliki tujuan yang sama.