Siku Kata 

Domus: Kecohan Gandum-Sawit

  • Reporter Aziz
  • 16 September 2021
Domus: Kecohan Gandum-Sawit
Hamparan tanaman sawit. (insert; hamparan tanaman gandum). foto: repro

"Juaranya adalah: Manusiaaa...". Tempik sorak membahana, saat pengumuman hasil pertandingan kambing hitam sejagat. 

Manusia adalah kera omnivora yang melahap segala di muka bumi. Kera jenis ini pula yang paling piawai mengumpul sejumlah kambing hitam ketika sebuah petaka menimpa. 

Musnahnya hewan-hewan darat berukuran besar dan berbulu (catatan sejarah), manusia menuduhnya sebagai akibat perubahan iklim dan pergeseran dari zaman es ke zaman bumi merekah: Perubahan iklim yang jadi kambing hitam. 

Kepunahan hewan-hewan air (laut) juga oleh iklim yang berubah. Bukan karena polusi air sebagai akibat dari genangan racun pabrik, limbah industri manusia. 

Maka, kera omnivora ini dijuluki sebagai “juara pengkambing-hitaman” untuk menyelamatkan wajah dan sejarahnya sendiri.

Baca juga: Kuku Liminal

Alkisah mengenai hewan dan tanaman yang dijinak, disebut sebagai peristiwa domestikasi (penjinakan atau “pe-rumah-an” oleh manusia terhadap hewan dan tanaman).

Ini terjadi sekitar 9500-8500 SM; gelombang Revolusi Pertanian. Proyek revolusi yang berpangku pada semangat untuk menyelamatkan hidup dari segi ketahanan dan konsumsi pangan. 

Wilayah pertama revolusi ini mencakup kawasan Turki Tenggara, Iran Barat Laut dan sekitar Masyrik atau Levant saat ini, Syria. Dari sini menyebar ke arah mata angin yang lain? 

Revolusi pertanian adalah revolusi yang berlangsung secara cluster yang merujuk pada kaidah adaptasi lokalitas secara mandiri. Bukan hasil dari ekspor ide revolusi yang berpusar di Timur Tengah ke wilayah mata angin yang lebih luas. 

Tak ada ekspor ide revolusi. Nyatanya adalah kemampuan adaptasi mandiri setiap bangsa manusia yang tergolong homo sapien itu dalam waktu dan rempak berlainan. 

Orang di Amerika Tengah, mendomestikasi gandum dan buncis tanpa beroleh kabar, tanpa info yang jelas tentang domestikasi gandum dan ercis orang di Timur Tengah (Turki, Iran dan Levante). 

Dalam kemandiriannya, Papua, menjinakkan tebu, pisang. Di Amerika Utara orang amat letih mencari labu di semak samun. Akhirnya mereka mendomestikasi labu kuning. 

Orang di Amerika Selatan belajar membudi-daya ilama, tanpa setahu orang Meksiko atau pun manusia kawasan Masyrik (Levante). Revolusi Pertanian itu berlaku di Hilal Subur, Columbus Tengah, Cina. Tak terjadi di Alaska, Australia dan Afrika Selatan.

Era Revolusi Pertanian ini, Tuhan hadir sebagai Tuhan agrikultur. Ketika sekumpulan petani mendambakan tanaman subur, buah meranum, dia harus menengadahkan tangan ke arah langit; meminta dan berdoa, agar Tuhan memasok hujan dan melarang serangga mendekati tanaman. 

Hujan jatuh: menyubur hara tanah dan gulma yang terkulum. Buah meranum, dipetik untuk tubuh manusia, gandum dipanen dengan pianggang yang menjauh.

Semua itu terjadi dengan syarat: manusia mempersembahkan hasil pertanian terwanginya kepada Tuhan. Di sini terjadi transaksi agrikultur antara manusia dan Tuhan. Lalu? 

Peradaban selanjutnya ditentukan oleh kemampuan dalam ihwal domestikasi (penjinakan demi penjinakan), baik terhadap hewan maupun tanaman. Termasuk anggur dijinak sekitar 3500 SM.
 
Gandum dan kambing didomestikasi pada 9000 SM. Ercis dan kacang India, tahun 8000 SM, pohon zaitun 5000 SM; kuda pada 4000 SM (ingat Ismail ibn Ibrahim). 

Deretan tarikh domestikasi ini menjadi penanda tentang perjalanan peradaban manusia dalam menaklukkan lingkungannya. Padahal, TIDAK. Malah terjadi yang bertolak belakang; sebuah pembohongan sejarah yang paling dungu di antara kedunguan sejarah lainnya.

Sejatinya, yang melakukan domestikasi itu bukan hewan dan tanaman terhadap manusia, namun manusialah yang terdomestikasi oleh gandum, pohon apel, antilop, kuda, rubah dan segala biota. Tubuh manusia tidak berevolusi untuk melaksanakan tugas-tugas menanam gandum, menyiang rambatan hingga tak meliar bak semak samun, kemudian merawatnya dari hama dan serangga, lalu memanen. 

Tubuh manusia diciptakan dengan tugas-tugas adaptasi untuk memanjat pohon apel, mengejar rubah dan antilop, bergerak lincah menghindari singa yang mengaum. Inilah tipuan itu; bahwa yang melakukan domestikasi itu adalah segelintir tanaman, bernama gandum, kentang dan padi.

Tetumbuhan itu lah yang melakukan domestikasi homo sapien (manusia kita), bukan sebaliknya, ujar Harari.

Sepuluh ribu tahun lalu gandum tak lebih dari tanaman liar, yang menyemak muka bumi Timur Tengah (Hilal Subur). Kemudian mendadak meluas merata dunia. Pun 10.000 tahun lalu, tak sebatang pun gandum tumbuh di Great Plains Amerika Utara. 

Kini?
Menyemak dan gandum menutupi muka bumi seluas 2.25 juta Hektar. Lebih luas dari Britania Raya. Bagaimana ini terjadi? Karena gandum mampu memanipulasi manusia demi kepentingan hidup si gandum. Begitu Harari menunjuk kita.

Beribu tahun sebelumnya, sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam, hanya secuil kegiatan manusia dilakukan dan terkesan membiarkan gandum, bahkan menghina dan mencemeeh gandum. 

Selanjutnya dia meliar dan tak memberi dampak apa-apa kepada manusia. Gandum menuntut sesuatu yang lebih dari manusia; gandum tak suka bebatuan dan kerikil, maka manusia sibuk menyingkir batu dan kerikil, seraya membanting tulang menyiang ladang. 

Gandum tak ikhlas berbagi ruang, air dan hara dalam hidup berjiran, lalu pria wanita bersigau mencabuti rerumput dan gulma yang menyemak sekitar batang gandum. 

Gandum bisa sakit, maka manusia mengusir hama, serangga, ulat. Gandum merasa dahaga, manusia memikul air dalam baldi dari lopak, menyiram pangkal akar. 

Demi menyuburkannya, manusia membuang kotoran hewan sekitar gandum. Manusia menetap, berkampung, demi merawat gandum liar. 

Pun, sawit hari ini untuk Indonesia, Riau khususnya. Sawitlah yang mendomestikasi manusia. Bukan sebaliknya. 

Kata “domestikasi”, berasal dari kata Latin; Domus, berarti “rumah”. Lalu, siapa yang hidup dalam rumah? Bukan gandum, bukan padi, bukan kentang, pun bukan sawit: Tapi manusia. Homo sapien itu... 



 

Editor: Abdul Aziz