Siku Kata 

Kuku Liminal

  • Reporter Aziz
  • 09 September 2021
Kuku Liminal
ilustrasi. foto: fimela.com

Paradoks kuku sebagai penanda sekaligus ditanda. Kuku juga berkaitan dengan politik. "Sasaran antara" dari politik adalah kekuasaan. Di sini kuku beroperasi. Kuasa yang berkuku, dia bisa menjadi domain kezaliman, sekaligus bisa menjadi instrumen kebajikan. 

Kuku memberi ruang pasar dan industri besar dalam dunia kecantikan dan kecantikan dunia. Sejak Babilonia sekitar 3200 SM, kaum lelaki sudah mengena pewarna kuku. 

Kasta yang tinggi dengan tampilan kuku bewarna gelap (legam-hitam). Kasta terendah dengan warna hijau. Bahan baku pewarnanya disebut kohl. Begitu pula Mesir kuno dan Cina kuno sekitar tarikh 3000 SM.

Kuku itu adalah sisi vegetatif pada manusia. Saban detik dia mengalami pertumbuhan. Maka, setiap dua minggu sekali, kita memeriksa pertumbuhan kuku, dilanjutkan dengan pemotongan; dibersihkan atau malah dikilatkan lewat ragam ikhtiar.

Baca juga: Sywa Menari

Ada ‘kepercayaan’ tradisi beberapa suku di Indonesia, jangan pernah memotong kuku pada bayi yang baru lahir, biarkan tumbuh alami sehingga dia patah sendiri. 

Tradisi ini dirawat hingga kini untuk menghindari bayi atau kanak-kanak dari serangan step (panas dan kejang mendadak).

Kisah memotong dan mengkilatkan kuku, kini sudah masuk industri, tak sekedar industri kosmetika. Pun gaya hidup. Salon-salon di perkotaan banyak melayani keperluan manicure dan pedicure

Produk Avon asal Prancis menjadi salah satu pemecah sunyi tentang kilat mengkilat ‘alam kuku’. 

Salon kecantikan, tak semata mengurus bulu, rambut dan kulit yang menimbul rona dan aroma. Tetapi juga memberi perhatian kepada kuku. Sebab, kuku adalah penanda dan ditanda. Lewat denominasi rona.

Timur Tengah, Afrika Utara, anak benua India, memilih jalan kuku dan telapak tangan yang dihias dengan daun pewarna yang diracik dan diuli; henna, hinna, mahendi, dialek Melayu disebut inai (nama Latin: ‘Lawsonia Inermis’. Tanaman ini ditemukan sekitar 5000 tahun lalu, dan orang Moghul yang membawanya ke tanah India. 

Dia (inai) menjadi jenis tanaman kosmetika tertua di dunia bagi manusia. Daun tanaman ini tak memberi efek yang berbahaya pada permukaan kulit manusia. Inai merupakan tanaman obat; untuk penyedot nanah dan darah kotor di sekitar nganga luka di tubuh manusia.

Di India ada festival ‘Karwa Chauth’; pembentangan ragam hias sekitar kuku, telapak tangan dan gelang tangan. Ornamen yang digunakan selalu dari jenis flora, garis-garis geometris, bahkan abstrak. Dan kuku, tetap menjadi penanda.

Dalam festival ini, mereka yang memajang ragam hias ini adalah wanita yang telah menikah. Ini sebuah penanda. 

Sebagai ditanda? Ada beberapa ‘kepercayaan sunyi’ yang merawat canggai. Jemari yang dipilih selalu jempol dan kelingking. Sesekali jari manis. 

Canggai merupakan sebuah perawatan yang menuntut kecermatan tinggi, sekaligus kesabaran, keteguhan dan ketabahan mengenai alam vegetasi.

Canggai harus selalu bersih, membawa efek sinar dan bercahaya. Canggai pada orang tertentu sama sekali tak memerlukan perawatan ala salon. 

Dia adalah hasil dorongan dalaman (inner) dari diri sang pemilik kuku: dimensi ketabahan, keteguhan, ketelitian, terpancar dari ukuran dan lengkung canggai. 

Dulu, yang suka memelihara canggai adalah kaum lelaki, bujangan, bujang tua (alias jomblo). Sehari-hari kerjanya menatap dan memandang kuku; mengamati pertumbuhan canggai (vegetatif). 

Bagian gaya hidup. Bak tanaman, pertumbuhan dari detik ke detik teramat subtil dan perlahan. Pertumbuhan yang diragi dari kasih dan sayang, belaian dan keinginan dalaman (inner drive) sang pemilik. 

Dulu canggai jadi nyanyian dan lirik lagu, bahkan jadi siulan bagi para perjaka. Walau sekedar menanam efek (kesan) macho, entahlah…

Di Jawa, Sunda, Betawi, Lampung hingga Palembang, tanaman inai ini disebut pacar. Mereka yang berkasih-kasih dinisbatkan sebagai peristiwa pacaran (yang akan mengenakan pacar di selaput kuku suatu hari kelak). 

Jelang pernikahan, sang pengantin wanita maupun pria mengalami peristiwa ‘mewarnai’ kuku dan jemari.

Alam Melayu dan Minangkabau lebih akrab dengan sebutan inai. Ada upacara ‘berinai besar’ ada pula upacara ‘berinai curi’ dalam tradisi Melayu jelang hari pernikahan bagi calon mempelai. 

Di sini kuku dan inai menjadi penanda inisiasi ke atas ‘masa-masa kritis’ atau masa-masa transisi (rite de passage) secara antropologis. 

Ritus ini merupakan bagian dari fase ‘liminal lunak’ (semacam ‘kematian kecil) jelang memasuki tahap kehidupan berikutnya (dari lajang ke kehidupan berumah tangga alias alam barzah@ alam antara). 

Inisiasi bermuatan sisi ‘tolak bala’. Inisiasi berinai ini mengambil garis malam. Karena malam adalah wilayah ‘tanzih’, wilayah jauh dan dekat yang menyatu dalam suasana magis. 

Pada orang Bugis peristiwa ini disebut sebagai fase ‘mapacci’ (dekat dengan bunyi ‘pacar’). Sedangkan di dunia Melayu, Minangkabau dan Aceh lebih mendekatkan bunyinya dengan henna, hinna dan mahendi menjadi inai

Logat ini menandakan efek kontinenal (benua) Asia yang dekat jaraknya dengan tanah Sumatra.

Sejarah menggoda kuku. Godaan yang menikam semua aspek kehidupan; Kuku menjadi simbol kuasa, simbol kebiasaan, tradisi, bahkan kepercayaan. 

Mental establish (mapan) menjadi prasyarat atau penanda jumud dan tak membaharu. Di sini kuku, terhenti menyiarkan kebaruan-kebaruannya lewat misi “liminal lunak itu” untuk mengisi ruang-ruang transisi. 

Kita pilih yang mana? Tentulah kuku yang menghablur suasana jumud. 


 

Editor: Abdul Aziz