Siku Kata 

Duri, Goodbye Chevron

Duri, Goodbye Chevron
Aktivitas tambang minyak di Duri Steam Flood (DSF). foto: ist

Secara terbalik, Duri itu adalah Balikpapannya sisi darat. Maka, Balikpapan adalah Duri-nya sisi laut. Modal dasar dua kota ini mirip; tambang minyak dan gas. 

Digenapkan oleh hadirnya sejumlah perusahaan tambang raksasa dari Amerika, Prancis dan beratus perusahaan kontrak yang mengekorinya. Tapi kenapa Duri nestapa? 

Sedari awalnya dulu, Duri seperti halnya Balikpapan hanyalah dusun kecil. Nama aslinya Pematang Duri. Setelah ramai, lalu ibukota kecamatan Mandau yang berada di Muara Kelantan (kini masuk dalam Kabupaten Siak) dipindahkan ke Duri. 

Sejak saat itu, Duri tetap sebagai ibukota kecamatan hingga kini. Sebaliknya, Balikpapan menjadi kota metropolitan dengan status kota (municipality) yang di atas dadanya terhimpun segala perangkat penggenap; bandar udara, pelabuhan nusantara, kilang segala kilang, pasar, sistem perbankan yang maju, pusat finansial, lembaga pemerintahan setingkat Provinsi (Kejaksaan, Polda, dan Kodam), walau semestinya lembaga-lembaga ini biasanya bermarkas di ibukota Provinsi (dalam hal ini semestinya di Samarinda).

Baca juga: Bola Magic 

Modal raksasa sebagai pengungkit kemajuan Duri dan Balikpapan tetap sama; Caltex pada awalnya berubah jadi Chevron. 

Kini, kehadiran Chevron di Balikpapan berakhir. Namun, kehilangan Chevron bagi Balikpapan tak pula membuat kota ini tak bernadi dan tak ‘berdarah’. 

Balikpapan sudah membentuk diri puluhan tahun dalam sebuah gaya kota penuh gaya. Dia memposisikan dirinya sebagai kota yang memanjakan para pekerja asing (expatriate) jua para pendatang. 

Wilayah ini, sejatinya masuk dalam gugus kebudayaan Paser (Melayu pesisir Kalimantan), yang berbatasan dengan kebudayaan Banjar di sebelah tenggara. 

Sebaliknya Duri, dikepung oleh gugus kebudayaan Melayu pantai timur Sumatera yang ranggi. Namun Duri secara administratif bernasib malang, tak semolek Balikpapan. 

Duri adalah kota dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Riau setelah Pekanbaru. Namun, dia hanyalah sebuah ibukota kecamatan di dalam kabupaten Bengkalis.

Kehadiran perusahaan minyak raksasa seperti Chevron (yang sebelumnya Caltex), tak dimanfaatkan oleh Riau untuk meningkatkan level kota ini menjadi kota yang mandiri, dengan kekuatan anggaran belanja sendiri, punya DPRD sendiri, memiliki walikota sendiri sebagaimana Dumai dan Pekanbaru. 

Momentum ini akan terbuang secara sia-sia oleh orang Riau yang alergi dengan isu pemekaran wilayah. Kegamangan dalam praduga dan duga-dugaan Melayu ini terkadang melampau batas. Seakan kita hidup tidak di hari ini, macam kita hidup tak menuju ke depan.

Persoalan Duri ini adalah persoalan cepat atau lambat. Dia sebuah keniscayaan untuk sebuah status: Kota. 

Selama ini, tak lebih dari sebuah cara menunda kebodohan agar kian panjang. Kita tak memperoleh apa-apa dari penundaan itu. 

Maka, manfaatkanlah momentum ini sebaik-baiknya, sebagaimana telah dilakukan oleh Kalimantan Timur terhadap Balikpapan berpuluh-puluh tahun silam. 

Saat ini, Balikpapan berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa lebih. Kotanya cantik, teratur, terasa berada di Singapura. 

Kenapa ini terjadi? Mereka memanfaatkan momentum dan ‘berpiknik’ dengan waktu dalam candaan-candaan menggoda ke-Indonesia-an. Sebaliknya, kita hanya membeku dalam kedunguan tak bertepi.

Inilah momen Duri dinaikkan tarafnya sebagai kota. Dia bisa mengalahkan Pekanbaru dari segi percepatan ekonomi. Setelah bentangan jalan Tol (highway) dan jalur kereta api, yang menghubungkan kota-kota bergemuruh di Riau dan Sumatra Utara. 

Tak sekedar Duri, bukan tak mungkin pula Muarabasung yang terletak pada poros yang sama, dinaikkan tarafnya menjadi kota (municipality); sehingga akan berimpitan dua kota kembar di wilayah Mandau-Pinggir, dan menjadi trigger ekonomi-kebudayaan bagi Melayu. 

Ketika menyia-nyiakan kesempatan ini, kita akan “dimaki” oleh anak cucu generasi kita ke depan dalam segala ragam dan rempak. 

Bayangkan ketika Chevron berangkat dan Duri hanya akan menyisakan sejumlah bengkalai. Dia akan menjadi wilayah yang mati (necropolis/kota mayat), sebuah tempat yang pernah diragut segala kekayaan buminya, tapi tak memberi faedah apa-apa kepada dirinya sendiri. 

Kita jangan pernah menyalahi kesempatan. Dan kesempatan itu hanya datang satu kali. Balikpapan yang jelita itu juga tersambung dengan highway (tolllroad) dengan Samarinda, dalam sebuah garis lurus nan memendek jarak. 

Ditambah gempita kehadiran Ibukota Negara di Penajam Paser, Balikpapan kian kemilau dengan kekuatan tiga matra; darat, laut dan udara sebagai akses dari dan ke kota ini. 

Duri hanya memiliki matra yang dua; darat dan udara (jika dikembangkan). Namun, Duri lebih diuntungkan karena berada di lintasan tersibuk nadi perjalanan darat Sumatera.

Sebuah garis jalan raya yang bergemuruh siang dan malam. Hanya berjarak 50 Km meter ke timur, dari Duri sudah tiba ke pantai timur (kota Dumai sebagai koridor matra laut bagi Duri). 

Jika Balikpapan menjadi buah hati Kalimantan yang selama berpuluh tahun ditimang oleh perusahaan minyak, demikian pula Duri, dia menjadi ‘intan payung’ bagi Riau untuk sebuah kota bergemeretap siang dan malam; menyemarakkan gempita lembah mandau-rokan. 

Duri adalah permata yang telat diasah. Duri, sebuah labor keragaman yang amat molek dijadikan model dalam kawasan Melayu yang terbuka itu. Duri adalah sebuah ranah yang telah matang dengan isu keragaman. Dia telah diulik dan dibesarkan dalam ‘kawah keragaman’ berpuluh-puluh tahun dan sudah terbukti menjalani fase-fase asimilasi dan enkulturasi antar kebudayaan secara matang, sejulur tanah pematang kaya mineral ini. 

Tak ada alasan gamang untuk menaikkan status Duri pada status kota. Yang diuntungkan adalah Riau, yang dimuliakan adalah Melayu sekaligus membinarkan kawasan pantai timur Riau yang senantiasa berdegub, ditambah faktor kedekatan jarak dengan pasar regional (Malaysia dan Singapura). 

Lalu, kota-kota yang layak dinaikkan tarafnya (status) menjadi kota selain Duri adalah Baganbatu di Bagansinembah, Rokan Hilir; Kandis di Siak, Minas dan Perawang juga di Siak. Selanjutnya, tentulah Rumbai yang menjadi ‘belahan jiwa’ kota Pekanbaru, perlu diangkat statusnya menjadi kota otonom. 

Daftar panjang itu masih bisa diurut lagi; Bangkinang (Kampar), Pandau (Kampar), Pangkalan Kerinci (Pelalawan), Air Molek, Seberida (Indragiri Hulu), Ujungbatu (Rokan Hulu). Tembilahan di Indragiri Hilir punya potensi besar untuk tumbuh selaku kota otonom dalam daya kota niaga estuaria.

Memekarkan kota di Riau ini, bermaksud menyediakan ruang kebudayaan dan kecepatan bisnis masa depan yang harus ditampung dalam ruang-ruang kota yang terancang dan terkawal.

Dan, ini pula cara kita menjawab kepentingan sebuah zaman dalam jawaban-jawaban per dua puluh tahunan. 

Singapura yang serba terbatas lahannya itu saja menjawab keinginan masa depannya dengan perencanaan per 15 tahun. 

Bandara Changi itu ketika kelihatan mulai padat-sibuk, mereka langsung mengembangkan terminal-terminal baru untuk menjawab kesibukan penerbangan dalam jangka masa 15 tahunan. 

Begitu pula terhadap ruang publik yang lain, tetap bergerak dalam rancangan ke depan serba cergas. 

Mereka tak membiarkan masa kini berlalu “apa adanya”, namun mereka menisbatkan, bahwa masa kini harus berjalan “sebagaimana mestinya”. 

Bukan “apa adanya”, sekali lagi bukan “apa adanya”... Duriiii; goodbye Chevron



 

Editor: Abdul Aziz