Jenggi 

Filsafat Perang

  • Reporter Aziz
  • 23 Agustus 2021
Filsafat Perang
Ilustrasi perang. foto: cdn.historycollection.com

Orang dulu kala memilih perang karena begitu banyak ruang kosong dan jalan buntu. Tidak ada cara diplomasi elegan dan ilmiah yang bisa disiasati selain mengadu senjata.

Jubah perang juga harus dikenakan untuk membalas penindasan, walaupun konsekwensi dari perang adalah pembunuhan. Nyawa tidak seberharga sekarang. Merah darah adalah warna favorit pada masanya.

Orang-orang dulu gemar dengan senjata mungkin sebagai kompensasi dari sempitnya pilihan-pilihan hedonistik, seperti kurang piknik, tidak ada hiburan, tidak ada paket wisata, tak ada media sosial, tidak ada mobile legends atau mortal kombat

Perang menjadi game, cabang olahraga, penyaluran energi, bahkan pertunjukan seni. Perang menjadi tamasya, menjadi media percakapan antar suku, menjadi pendakian jiwa menuju klimaks: selebrasi kemenangan, karena berhasil membunuh lebih banyak, dan tentu saja rampasan dan pampasan perang.

Untuk tidak menolak sejarah dogma, perang dapat dimungkinkan bagi membalas kezaliman dan pengusiran. Juga kaitannya dengan kolonialisme dan nasionalisme. Di lain waktu perang adalah misi suci di hadapan Tuhan. Perang melahirkan pahlawan.

Baca juga: Realitas Ilusif

Di luar itu, perang adalah nalar wajar pada zaman ketika ia menjadi megatren dunia sepanjang abad-abad kegelapan. Masa ketika senjata mengambil alih urusan otak dan akal budi. 

Tapi anehnya orang-orang sekarang masih ada yang berperang. Perang dianggap sebagai shortcut sambil menutup jalan lain. Padahal kita tidak sedang terusir dari bumi, masih banyak tempat untuk meneruskan kehidupan. 

Akar dari perang adalah kepemilikan dalam seluruh definisi serta pemaksaan ide. Dan tanpa sadar mereka sedang dimanfaatkan.

Di antara mereka telah membaca Agresionisme atau semisalnya, adalah teori filsafat yang menyatakan bahwa satu-satunya penyebab perang sesungguhnya adalah sifat agresif manusia. 

Manusia mempertahankan sikap agresif dari bawah sadarnya, yang diturunkan oleh DNA moyang kita: Sapiens, spesies penakluk di semua belantara.

Tak terhitung prajurit mati sia-sia dan tersiksa oleh trauma perang, untuk melayani selera barbar para tiran dan demi mempertahankan ego sakit mereka. 

Alfred Adler (1870-1937), seorang psikiater dari Austria yang lahir di zaman perang mendefinisikan perang sebagai pembunuhan terorganisasi dan penyiksaan terhadap saudara-saudara sendiri.

Bahkan Sun Tzu, seorang panglima jenderal militer China yang dianggap genius itu mengakui, tidak ada contoh negara yang diuntungkan dari perang berkepanjangan. Sun Tzu menjadi salah satu Bapak dari filsafat perang sekaligus pelaku utama. 

Filsafat Perang adalah basa-basi, yang seharusnya semu, hanya sebagai pembenaran sejarah. Perang seolah-olah dibenarkan yang harusnya berbenturan dengan filsafat moral. 

Maka muncullah Carl Philipp Gottfried, seorang jenderal dan ahli teori militer Prusia yang menekankan moral dan aspek politik perang. Karyanya yang paling terkenal, Vom Kriege (On War), belum selesai pada saat kematiannya.

Clausewitz adalah seorang realis dalam banyak pengertian yang berbeda dan, sementara dalam beberapa hal romantis, juga sangat menarik pada ide-ide rasionalis dari Pencerahan Eropa.

Filsafat Perang umumnya tidak bermaksud mencegah perang, hanya bekerja untuk memeriksa isu-isu seperti penyebab perang, hubungan antara perang dan sifat manusia, dan etika perang. 

Filsafat ini lahir pada zamannya, seharusnya sudah dihapus karena unfaedah. Sehingga satu-satunya cara masuk akal untuk membasmi perang dan penindasan adalah stop semua produksi senjata dari atas muka bumi.

Perang menghanguskan, menghancurkan dan membantai. Tidak ada satu pun manusia berakal sehat merasa mendapat kegembiraan darinya, kecuali para ahli biologi evolusioner yang menolak agresionisme karena mendukung kepunahan, serta semua sekte psikopat dan konspirasi jahat yang menginginkan kepunahan selektif (saya tidak berbicara dalam konteks radikalisme yang mengatasnamakan agama).

Selain para pendukung teori kepunahan, tentu saja yang paling diuntungkan adalah kapitalisme senjata. Mereka siap melayani kedaifan umat manusia sepanjang sisa waktu dunia, asal ongkosnya sesuai. Kata Cicero, uang adalah otot dari perang.

Dalam laman Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Arms Industry Database terdapat daftar 100 perusahaan dunia teratas penyedia senjata berdasarkan jumlah penjualan tahunan dari 2002 hingga 2018.

Dari data yang disediakan SIPRI, jumlah transaksi penjualan senjata dari 100 perusahaan berbagai negara pada 2018, dalam kondisi damai saja mencapai US$420 miliar. Angka ini naik sebesar 6,4 persen dibanding 2017 yang menyentuh US$395 miliar.

Dari 100 perusahaan tersebut, 48 di antaranya adalah milik Amerika Serikat sekaligus berada di peringkat lima teratas peraih keuntungan terbesar. Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip Bertrand Russell: perang tidak menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tersisa. 



 

Editor: Abdul Aziz