Siku Kata 

Gerak Tak Nipu

Gerak Tak Nipu
Kata 'bebas ongkir' menjadi kebiasaan kaum urban yang terhanyut pada gerak cepat waktu. foto: aziz

Gerak penanda hidup. Tiada gerak, alamat kematian, henti dan beku. Gerak tubuh manusia, bukan milik orang kota semata. 

Di kampung-kampung dan desa, semua orang bergerak demi memajeliskan kehidupan. Di kota, gerak seakan dijinak oleh sejumlah kapsul artifisial. 

Orang tak lagi bertopang pada keperkasaan dua tungkai kaki. Dia sudah diapit oleh sekian banyak ‘faktor penjinak’ bernama kenderaan yang berkecipas sejak pagi hingga bertukar subuh berikutnya. 

Kenderaan pribadi, angkutan umum, semua melayani gerak sembari meroboh ruang dan jarak-jarak nan sayup.

Beberapa hari lalu, Sir Richard Branson melancong ke angkasa luar. Menikmati pemandangan “rumah orang kate-kate” di sebuah sudut yang tak dihitung dalam samudera angkasa lepas: Bumi.

Gerak juga dilayani oleh semangat profesi, selain memikul tugas dan cahaya profetik (antara dakwah dan pencerahan ilmu). 

Taxi, cab, memikul tugas ‘gerak’ dan ‘antar’. Bukan ‘gerak’ kosong, namun, dia juga memikul tugas ‘mengantar’ (dalam balutan profesi, sekaligus profetik). 

Apa yang diantar oleh sebuah ‘gerak’? Bisa tubuh, boleh juga barangan dan benda-benda. Yang menanti dan menunggu, dalam posisi rindu dan harap. 

Di sini ‘gerak’ menebus harap dan memupus rindu. Rupanya, harap dan rindu, secara manis diselesaikan oleh’ gerak’. Tanpa gerak, rindu jadi racun, harap membeku laksana tuba.

Perang dan pembunuhan sadistik sekalipun diungkai oleh ‘gerak’ orang-orang yang mengokah malam; dan... menyemburlah darah di atas tilam empuk pada sebuah kediaman elite di Port au Prince (Haiti) baru-baru ini. 

Gerak lasak tak beraturan menggambarkan pola perang ala Romawi, Cina kuno, Mesir kuno, Mesopotomia dan Assiriya. Begitu juga gerak memecah debu oleh silangan kaki kuda orang Mongol: mengepung Bagdhad. 

Dari gerak pula, lahirlah wira dan pahlawan zaman. Para jelata dan oketai ditugasi menyambut kehadiran wira itu dalam gempita karnaval yang mempertontonkan ‘gerak’.

‘Gerak’ yang menghasilkan perkelahian atau pun perang antar bangsa itu kemudian dijinak menjadi gerak tanding dan festival. 

Baca juga: Duri, Goodbye Chevron

Semuanya dikesankan sebagai upaya mengusir insting purba. Maka menjelmalah ‘gerak’ menjadi serangkaian pertandingan bola, tinju, tenis, volley, festival film Cannes, festival syair dan puisi, olimpiade dan sejumlah turnamen di kampung-kampung kecil demi menyemarakkan sebuah hajat pemilihan anggota legislatif (gerak yang digebuk oleh libido politik popular). 

‘Gerak’, sejatinya mencerahkan orang-orang menjadi kian terdidik dan berakhlak mulia. Namun gerak juga mendesak orang-orang menjadi benalu, membodohi masyarakat dan mendungu tiada terhidu. Di sini, sedang berlangsung “gerak” membunuh ‘gerak’.

Kisah gerak dan taxi yang ‘mengantar’; datang tepat waktu, tak perlu menunggu di panas terik dalam ketidak-pastian berjenang. Mengantar tanpa embel-embel tanya yang mengusik. Mengantar dengan pasti, tanpa bayar tunai.

Dulu, mesti tunai tanpa uang kembalian dari sopir. Tak sekedar menjemput dan mengantar badan atau tubuh manusia, tetapi bisa pula membawa paket pesanan berupa barang belanjaan dan segala rupa keperluan harian, lengkap teraan ‘ongkos antar’ yang juga tak memerlukan uang pas dan atau tanpa kembalian uang receh. 

Inilah jenis konsumen cerdas, mengutamakan efisiensi; penghuni kota-kota modern. Namun, pelayanan taxi tak mengikuti perkembangan “jiwa” masyarakat yang berubah. Perubahan massif?

Karena perkembangan teknologi informasi, dalam gerak digit yang serba pasti. Memperkecil perilaku koruptif yang selama ini ditoleransi oleh konsumen kepada para sopir: berlindung istilah tip. 

Tabiat ini, jika diteruskan dia akan menjadi kebiasaan menggunung dan sudah dianggap biasa dalam bertransaksi di Indonesia. Sebuah transaksi yang tak saling merawat amanah. Ternyata, kita bukan bangsa amanah.

Taxi itu bergerak; perlahan atau kecepatan tinggi. Dia harus menyuguhkan kenyamanan bagi konsumen. Ini bukan semata etika jual-beli, tapi terselip di dalamnya, secara substansial; amanah.

Sebuah saham yang harus direkayasa demi menggalakkan hidup modern; menuju suasana serba hemat energi, waktu, hemat kata, tapi maksimal dalam pelayanan. 

Manusia modern itu ditandai indikator khas: hemat kata dan berujar. Manusia modern itu, merawat privacy, hak pribadi yang tak mudah diumbar menjadi miliki bersama. 

Ada sesuatu yang disimpan di dalam diri manusia modern yang berderap melintas jalanan kota metropolitan.

Mereka laksana ‘seonggok komputer’ dengan memori yang padat, tak boleh bocor di jalanan, tak ingin ngadat di tengah jalan atau pun tak boleh mengalami interupsi selama dalam perjalanan. 

Siapa sang interuptor itu? Sekali lagi, yang selalu menginterupsi manusia-manusia yang melintas jalanan kota itu tak lain tak bukan adalah para sopir usil (maksa-maksa ramah). Terlalu ramah, sekaligus amat mengganggu.

Ada jenis pertanyaan yang tak perlu disodorkan, malah dilontarkan kepada penumpang. Sebuah pertanyaan yang tak produktif untuk ukuran masyarakat yang tengah menjalani peristiwa meng-kota (urbanized).

Taxi yang bergerak dan sopir yang bertanya; seakan dua person yang sedang bertatap muka.

Saat ini, konsumen dan sopir memposisikan diri dalam posisi binary yang tak beridentitas (nir-nama, no name atau anonymus). Identitasnya tak lebih dari identitas fungsional (penumpang dan sopir).

Dalam selodong cab atau taxi, hanya ada dua manusia yang dimanjakan oleh keramahan profesi, bukan keramahan primordial.

Memaksa keramahan primordial; maka hubungan manusia di dalam cab atau taxi itu berubah sontak menjadi hubungan silaturahmi duaan (diadic/deuce) yang sarat emosi jiran, tak lagi emosi profesi. 

Emosi berjiran itu bawaannya; terlalu ingin banyak tahu akan tetangga sebelah (alias kepo). Suka mengurus dan peduli-pedulian mengenai jiran. 

Lama kelamaan emosi jenis ini, malah bertabiat ikut campur, intervensi, ingin menguasai orang lain dalam selera dia. 

Orang-orang membentuk diri berdasarkan kemauan orang lain; menurut si anu, menurut si fulan, menurut maunya atasan, menurut selera atasan, menurut maunya orang-orang kaya dan berpengaruh. 

Diri tak pernah menjadi diri dalam kepungan tembok emosi berjiran. Wadah yang tepat untuk ihwal berjiran itu; namanya kampung, luhak, huta, banjar, jorong. Inilah ranah batin primordial. 

Di sini pelayanan taxi atau cab modern tak diperlukan. Dan memang tiada. Dia berubah wujud dalam moda angkutan roda; beca, bendi, andong atau malah pedati, paling tinggi ojek motor he he he...

Perusahaan taxi yang tak siap dengan perkembangan teknologi aplikasi online itu pun menumpahkan para sopirnya mengepung jalanan kota. 

Mereka berdemo, berujung anarkhis. Bukan keramah-tamahan yang dipertontonkan, tapi jiwa ‘kanibal’ jadi penghias teater jalanan hingga memecah hari. 

Tak sekadar menganggu kenderaan, tetapi juga mengusik orang dan penumpang yang bergegas dalam harap. 

Negara tak jua siap dan siaga mengantisipasi ‘gerak’ fenomena kenderaan angkut aplikasi daring (online) yang seakan terliarkan, terbiarkan, sementara teknologi itu sendiri telah memaksa masyarakat untuk memanfaatkan secara cerdas dan hemat, terutama melindungi privacy

Secepat dan selekas apapun gerak yang disediakan oleh kapsul artifisial, hal dan hak privacy menjadi julangan agung di tengah modernitas yang bermabuk dengan segala ‘gerak’ itu. Gerak; mengetam ruang, menyilet waktu...

Editor: Abdul Aziz