Limapuluh Kota, elaeis.co - Sejumlah petani di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mengaku menyesal tidak mengolah areal persawahan miliknya pada musim tanam tahun ini menyusul melambungnya harga beras di pasaran.
"Benar-benar menyesal," ungkap Rudi, petani di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, kepada elaeis.co, Jumat (10/2).
"Kalau tahu seperti ini, 'kan lebih baik saya yang mengolah sawah," tambahnya.
Karena sebelumnya harga beras masih tergolong murah, Rudi menyerahkan pengelolaan areal persawahannya kepada petani lain dengan sistem bagi hasil, yaitu 2/3 untuk yang mengolah, sementara 1/3 lainnya untuk Rudi sebagai pemilik sawah.
Dalam kalkulasi Rudi, dengan harga beras yang hanya Rp20.000/gantang kala itu, mengolah sawah secara ekonomi tidak mendatangkan keuntungan yang memadai. "Kalau dikalkulasikan, paling hanya balik modal," katanya. Makanya Rudi menyerahkan pengolahan sawahnya kepada orang lain.
Tapi sejak beberapa waktu belakangan, harga beras di pasaran terus bergerak naik. Kalau sebelumnya hanya Rp22.000/gantang, belakangan sudah menembus angka Rp30.000/gantang.
Wawan, petani lainnya di nagari yang sama, juga mengaku lalai sehingga tidak sempat mengolah areal persawahannya, yang setiap panen menghasilkan 1 ton GKG (gabah kering giling).
"Musim tanam nanti dipastikan akan saya olah (sawah itu)," tambah Wawan, yang sehari-hari berprofesi sebagai penderes karet itu.
Pantauan elaeis.co, umur tanaman padi petani setempat sudah sekitar dua bulan, dan diperkirakan sekitar sebulan ke depan akan memasuki masa panen.
Harga Beras Naik, Petani Ini Mengaku Menyesal Tak Mengolah Sawah
Diskusi pembaca untuk berita ini