Siku Kata 

Hiduplah Tanah Ku

  • Reporter Aziz
  • 18 Agustus 2021
Hiduplah Tanah Ku
Pekebun kelapa sawit melanjutkan kembali generasi tanamannya dengan tanaman baru. foto: ist

Di atas tanah yang hidup, tumbuhlah impian. Di atas tanah nan hidup, merecup idaman kolektif untuk berbagi dan mengisi. Frasa “Hiduplah tanah ku”, dipetik dari lirik lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ nan kacak-tampan. 

Frasa ini tak berdiri sendiri. Diikuti dengan kata-kata berkaidah metonimi; “Hiduplah negeri ku”. Lanjutan metonimi itu, berjulur dalam moda metafora berikutnya “Bangsa ku, Rakyat ku, Semuanya...”.

Tanah nan hidup; sebuah metafora atau metonimi? Terserah. Yang jelas, dia semacam kehendak yang berorientasi ke masa depan. Bisa disebut sebagai doa atau puisi yang menyandarkan keinginannya ke masa depan. 

Sebuah gerak kehendak tanpa batas. Sebuah realitas imajiner atau malah sebuah bangunan realitas ilusif. Bahkan mengarah pada “ilusi niscaya” sebagaimana agama, tulis Durkheim.

Metafora (Jakobson); ‘penggantian satu kata dengan kata lain’, sementara metonimi ingin menjelaskan ‘hubungan kata per kata’. 

Baca juga: Bencana Ceria

Lirik dalam lagu Kebangsaan itu memiliki daya hidup (Vita Activa) dalam kekuatan penuh metafora dan metonimi. Tanah yang hidup, ditandai dengan kegemburan, top soil kaya hara dan humus. 

Dia tak bicara lahan (land). Lahan adalah persepsi dan konstruksi mekanis sekaligus kapitalis. Tanah sebagai ‘soil’ adalah kenyataan dan harapan, bak teori “Bayangan Cermin” Jacques Lacan. 

Lacan mengaitkan entitas bayi (infant; enfans= belum bersuara) rentang usia 6-18 bulan. Bayi berjuang mengenal bayangan diri sendiri di depan cermin tanpa media ‘bicara’ (hanya sejumlah bunyi instinktif-arkhaik).

Di atas tanah nan hidup, tumbuh menyeruak peradaban. Peradaban primal yang mengubah segala tumbuhan menjadi tanaman (agrikukultur). Dari sini orang diajak untuk menanam demi sebuah peristiwa tumbuh (bak kecambah tauge). Lantas, ‘tumbuh’ (growth) sebagai fenomena agrikultur perdana itu, diolah menjadi semacam metafora (lagi) oleh ilmu ekonomika, statistika (PDRB, Ratio Ginie dst). 

Tanah nan hiduplah yang ‘menyuruh’ terjadinya peristiwa ‘tumbuh’ dan ‘bertumbuh’ itu. Kenyataan agrikultur nan tangguh lewat tangan-tangan manusia Indonesia yang lasak, menjadikan tanah ini hidup. Semua ini, bawaannya baru bersifat in-potensia (alias Indonesian dream). 

Tugas berikutnya? Mewujudkan mimpi itu menjadi in-actu. Cogan tua yang amat popular di Prancis; “Parce que tant qu’il y a de la vie, il y a de l’espoir” (jangan pernah letih mencangkul, selagi masih ada kehidupan, di situ ada harapan). 

Tanah menjadi kian hidup oleh para petani lasak, pekebun cergas, pedagang ligat, kaum profesional lincah, anak muda mendaki mimpi, orang-orang tua nan bijak bestari, wanita yang gemulai dan menyejuk atas ganasnya perjuangan (perang) melawan pandemic serata dunia. 

Anak-anak Indonesia berdiri dan berbuat di atas tanah yang hidup, negeri yang gemeretap, kota-kota yang bergemuruh, silang pendapat dan opini rimbun dialektika. 

Semuanya itu pertanda negeri ini ditopang oleh orang-orang tangguh di atas tanah yang hidup. Bukan bayangan depan “Cermin”, karena sulihan suara yang dibungkus oleh musik di dalam lagu Kebangsaan itu berbeda sama sekali dengan suara-suara yang terjebak dalam ‘bahasa’. 

Bahwa suara “Hiduplah tanah ku”, memiliki dimensi poetika dengan kekuatan sihir, magi. “Suara, bisa menyesatkan ujar Jakobson lagi, ketika hadir bugil sebagai bahasa yang meletakkan dirinya dalam skala dikhotomis yang mengarah pada peran diferensial yang dimainkan oleh sejumlah entitas fonemik”

Sebagai entitas fisik, maka suara dalam ‘wicara’ cenderung menyesatkan. Namun dia bakal menjadi jinak ketika suara dibingkai oleh kekuatan (poetika) musik, karena telah terjadi (di dalam musik itu) sebuah upaya “mengatur suara dalam skala ritmis dan berubah secara teratur”. 

Di sini terjadi persalinan yang serba “melampaui” kata atau suara itu sendiri, sehingga ter(di-giring) bersandar pada tembok surrealisme-magis.

Hiduplah tanah ku, Hiduplah negeri ku,...; frasa yang menerjang bimbang, serba gamang, galau tiada berpulau. Sejenis kalimat seru (imperatif) yang didodoikan (dijinakkan menjadi doa dan puisi) untuk sebuah persalinan (kelahiran) bayi yang pelan-pelan merangkak menuju muka cermin dalam serangkaian tatih dan geriang bunyi (nir-suara) serba instinktif dan parau arkhais. 

Spinoza jua berujar lunak; “fear cannot be without hope nor hope without fear” (tiada kegamangan tanpa harapan dan tiada harapan tanpa kegamangan). 

Bravo Indonesia. Bangga (dalam tangguh peperangan) melawan segala niskala dalam serba niscaya...

Hiduplah tanah ku, oleh petani-petani menetak subuh, mematah senja, memetik siang, menjuwita malam...


 

Editor: Abdul Aziz