Siku Kata 

Katak Parit dan Katak Laut

Katak Parit dan Katak Laut
Prof Yusmar Yusuf saat berada di bawah hampar jalaran tanaman labu. foto: dok. pribadi.

Dua saudara sepupu. Tak saling bertemu. Namun rindu-berindu. Tersebab teknologi informasi, mereka terhubung oleh kelincahan jemari. 

Secara diam-diam mereka telah memiliki platform media sosial; ada WA, IG dan fb. Maka, tunailah rindu dalam persemendaan waktu.

Katak Parit menyapa: “Hallo, halloo… ini sepupu mu, katak parit yang telah membangun tahta kerajaan buana semesta parit terhebat dan terindah di dunia.

Katak Laut: “Waalaikumussalam”, seraya batuk kecil menjawab suara seberang sana dalam langgam serba singkat. Walau tak nyambung. Kok tak nyambung? Sebab sapaan Katak Parit tak diawali dengan ucapan “Assalammualaikum”.

Mereka terhubung oleh jejaring telepon dan bisa saling sapa. Gratis pula. Jenis panggilan (call) pun beringsut menjadi “video call”: saling pamer paras juga latar sekitar.

Katak Laut: “Aku memang berencana mengunjungi mu suatu ketika duhai sepupu ku di dunia parit. Memang dah lama dengar kisah dan ihwal tentang mu. Kita bersaudara, tapi jarak dan waktu lah yang memisah kita”.

Katak Parit: “Wah, boleh… boleh dengan senang hati. Tapi, apa maksud kunjungan mu hanya untuk membanding-banding dan kau akan berkata bahwa laut sama besarnya dengan setengah ukuran parit ini?”

Katak Laut: “Ohhh,… lebih besar, agung dan raya. Jauuhh… jauuuuhh”

Katak Parit: “Atau engkau hendak mengatakan bahwa laut mu itu sama besar ukurannya dengan parit ini?”

Katak Laut: “Wooww…, sama sekali tidak. Tentu jauuuh dan jauuhhh lebih mega” (dalam aksen suara menebal untuk memberi efek superlatif begitu luasnya samudera).

Katak Parit: “Tak mungkiiin, sama sekali tak mungkiiin”.

Dialog dua saudara sepupu itu pun terhenti sampai di situ. 

Momen kunjungan ini adalah celah terindah untuk saling berbagi kisah tentang segala ihwal dan sesuatu. Termasuk lingkungan tempat tinggal masing-masing. 

Tak sekedar itu, juga berbagi kearifan dan pencerahan antara satu sama lain. Demikianlah kaidah hidup; saling berbagi dan mendengar. 

Kita menjadi besar atau kecil, karena kita bisa saling berbagi dalam langgam apa pun. Dalam suasana apa pun. Termasuk pencerahan akan ide-ide baru, ide-ide lasak dan menabrak, ide-ide beku pasti akan lisut. Membusuk dalam gulungan batu waktu. Lalu bisu…

Pencerahan menjadi satu jalan, mode dan trend, bahkan dia bisa naik taraf dalam topik seminar motivasi atau dialog mencerdas, konferensi atau apa pun dalam masyarakat manusia. Termasuk para petani tentunya. 

“Seseorang tidak menjadi tercerahkan dengan membayangkan bentuk cahaya," ujar Carl Gustav Jung. "Namun, dia tercerahkan dengan menyadari akan kegelapan”.

Kunjungan Katak Laut memang terjadi dalam selang waktu yang tak berapa lama dari percakapan via “video call” antara dua sepupu itu. 

Adat menumbuh, istiadat bersambut: selang beberapa purnama setelah kunjungan ini, Katak Parit pun melakukan kunjungan balasan. 

Dalam dekap akhlak terpuncak, si Katak Parit ini bergerak perlahan, gerak sedang dan gerak cepat (laju) menuju arah lautan. 

Tepat kala dan ketika-nya, maka tibalah si Katak Parit ini di bibir Lautan tempat saudara sepupunya bermastautin (mukim). 

Setibanya di laut, Katak Parit terheran-heran, merasa gayang, melayang, huyung dalam kesemestaan pukau. 

Konon kepalanya meledak, hancur berkecai, karena tak bisa menerima betapa luasnya kebenaran ini.

Selama ini, si Katak Parit terperangkap di rawa-rawa kebenaran dalam fenomena bazaar, serba noemena pasar. 

Semua kebenaran (artifisial dan superfisial) dia borong sendiri, termasuk menyerbu dan memborong Tuhan dalam versi demonstratif. 

Segala simbol kebenaran dan kealiman, didemonstrasi, diekspos dan dipertontonkan, demi daku-mendaku. Atau demi memohon “pengakuan senyap” maupun “pengakuan heboh” dari orang-orang sekitar.

Ada jua orang yang gila diangkat-angkat, alias makan “hambuk” ujar orang Sungai Apit. Hari-harinya dihabiskan untuk membangun kesan, dia seorang hebat, pintar, cerdas, serba tak terduga. 

Para pengagumnya: apakah murid, bekas murid, mantan bawahan, dijadikan sebagai “juru sorak”, bahwa dia memang hebat, dia memang unik, lain dari yang lain. 

Lalu, setelah itu dapat apa? Semua bermahkota hampa dan hampa. Itulah mental si Katak Parit…



 

Editor: Abdul Aziz