Siku Kata 

Merumah

  • Reporter Aziz
  • 28 September 2021
Merumah
Rumah berselimut alam semesta. Keheningan ada di rumah. foto: ichi.pro

Rumah, awal mula kita menjadi manusia. Di rumahlah kita menemukan bintang, bulan, matahari dari mata sendiri, belum diimbuh lewat mata orang-orang lain. 

Bulan, bintang dan matahari dari rumah adalah bintang, matahari dan bulan sejati, hasil konstruksi diri yang serba lurus, terbatas dan lugu, terkadang (mungkin) dungu. 

Namun, kedunguan ini pula yang diperlu dan dirindukan untuk memahami alam dan sekaligus Tuhan. 

Tak cukup pengetahuan kita untuk memahami Tuhan, “maka tambahkanlah kedunguan demi kedunguan untuk memahami Mu”. 

Karena begitu terbatas ilmu dan pengetahuan manusia tentang Tuhan, maka kita harus balik kembali ke rumah untuk memetik kedunguan dan mengejakannya secara perlahan dan terbata-bata. Inilah kita, manusia...

Baca juga: Domus: Kecohan Gandum-Sawit

Kita bukan makhluk sosial semata, namun makhluk domestik, yang merindukan keheningan, ke-diam-an, kesenyapan, kesunyian agar diberi ruang dan kesempatan untuk menggali sumur di dalam diri agar lebih dalam lagi. 

Bekal untuk berinteraksi pada waktunya tiba, dalam memajeliskan diri selaku makhluk sosial, yang senang berhimpun dan berseloka dalam keramaian jamaah, ibadah dan senda loka kehidupan; di kantor, sekolah, di pabrik, sawah ladang, kebun dan parak. 

Selama ini kita bersorak dalam keramaian hanya bermodalkan pengetahuan (sekolahan atau pun karena pengalaman hidup). Sesekali, sandingilah dengan kedunguan, keluguan yang membawa kita lebih mawas diri dalam berinteraksi dengan alam bahkan dengan segala isinya. 

Memang diperlukan kedunguan sejati. Dan, saat inilah kita sedang menuntut (ilmu) tentang kedunguan itu dengan cara “merumahkan” badan, “merumahkan” diri, alias “stay at home” alias “duduk rumah” alias “di rumah aja”, alias “di rumah lebih aman”.

Mengapa rumah? Kata kuncinya adalah “aman”. Di dalam dan di luar adalah dunia yang amat berbeda. Alam dalam adalah ketenangan, kenyamanan, kehangatan, rebah melarut. 

Sementara alam luar adalah alam inhibisi, alam ancaman, heboh, bising, kemaruk, alam yang diisi oleh sejumlah pertandingan dan persaingan yang tak kenal sudah. 

Segala penyakit itu berasal dari luar, tidak dari dalam. Maka, ketika ancaman, wabak, perang, wabah, bencana dan ancaman virus sekalipun, dia jamak dialamatkan sebagai sesuatu yang berasal dari luar. Maka, saat dan ketika itu lah orang harus kembali ke dalam.

Mengapa ke dalam? Di dalam ada tasik bening tempat kita merenung, siapa kita, mengapa kita dan sudah bagaimana kita selama ini bertindak-laku di luar sana. 

Selama ini kita sok dan berlagak sebagai makhluk “luaran”, makhluk ekspresif, meniadakan sesuatu yang semestinya juga mengesankan diri selaku makhluk “impresif”. 

Kita menenteng diri bak centeng yang menjinjit malam sehingga menusuk subuh, dan belum cukup sampai di situ, lalu dari subuh menusuk malam. Seakan tiada hari untuk membangun “quality time”
bersama sanak keluarga.

Akibatnya? Permainan dunia luaran itu bernama selingkuhan, berbagi cinta, melukai hati perempuan, menolak kehadiran anak, mendiamkan dan mendinginkan sikap kepada yang tua renta, hukum publik pun jadi mainan bagi mereka yang kuat untuk memperlakukan yang lemah. 

Inilah dunia ekspresif yang dibanggabanggakan oleh kaum “machoism”, yang melekatkan kekuatan dan kekuasaan patriarkh, dunia kaum lelaki dan meng-kotak-kotakkan kekuasaan di ujung tongkat dan genggam sesiapa yang kuat, maka dia beroleh keuntungan dan ketawa tanpa jeda.

Rupanya, selama ini kita melekatkan diri selaku makhluk perantau yang tak kenal jalan pulang dan balik kembali. 

Hari ini kita disuruh balik kampung, mudik kampung, tidak dalam pengertian berbondong-bondong menuju kampung kelahiran atau pun kampung leluhur yang dah lapuk itu. 

Jenis balik kampung model ini, tak lebih dari model balik kampung palsu, balik kampung luaran, bukan kampung dalaman. 

Balik kampung model (raya dan lebaran) adalah gelombang sosial kepalsuan yang di dalamnya berisi persaingan palsu, orang mempertontonkan diri sebagai yang paling daku, paling hebat, paling berkadar reunion (reuni); membangga-banggakan siapa aku, sekolah apa aku dulu kala. 

Baca juga: Kuku Liminal

Kita bersibuk meninggalkan rumah-rumah demi reuni kepalsuan. Bulan ini anak reuni dg kawannya. Bulan depan ayah melakukan reuni di kota A, bulan berikutnya sang ibu pula meninggalkan rumah, demi menunai rindu reunian di kota E. 

Dan begitulah seterusnya; reuni seakan menjadi ritual modern, ritual posmo atau pun ritual kaum yang menyebut dirinya sebagai “post truth” itu.

Kini, tiba saatnya kita melakukan reuni sejati dalam kedunguan kaum keluarga, sedarah dan segalur asal, pada sebuah titik bernama: Rumah. 

Ya, kita harus balik dan kembali dalam pulang yang tak palsu. Saat begini, bisa mengenal siapa isteri kita sebenarnya. 

Kesempatan ini pula, mengenal siapa sebenarnya sang suami, anak-anak kita sebenarnya. Telah sejauh apa mereka menjadi sesuatu yang bernada “serba luaran” karena interaksi tiada henti dengan kaum-kaum luaran yang mengedepankan ekspresionisme kapitalisme, hedonisme, narsisme, dunia kerja, dunia jabatan dan eselon, dunia dalam charta kemajuan anak-anak era “post truth” itu? 

Pun, kita telah menjadi “yang lain”, “the others” (liyan), dan tak pernah mau pulang ke “rumah” ke dalam “diri sendiri”. 

Numpang bangga menjadi sesuatu, menjadi orang lain, dibalut oleh kemegahan partai politik, jabatan puncak syarikat multi nasional yang mengedepankan profesionalisme, dinamisme, progresivisme dan anti kedunguan.

Di luar sana, kita secara tak sadar menjadi perencah atau bumbu untuk sebuah gulai bernama ormas yang berbalut syariah, berbungkus agama yang terkadang melupakan relasi sosial dan tenggang-rasa dalam kaidah keragaman. 

Seakan jadi juru kunci menuju kedamaian sorgawi di alam seberang sana, semua disebabkan mengalami kegagalan bertingkat-tingkat dalam menunaikan kewajiban hidup yang wajar. 

Mungkin ada yang “berseberangan” dengan pemerintah saat ini, namun kita tak mampu pulang ke rumah untuk bertanya kepada diri sendiri. 

Sudahkah kita berbuat sesuatu bagi kaum kerabat terdekat? Sebuah jalan menghindari kedamaian palsu di luar sana...


 

Editor: Abdul Aziz