Siku Kata 

Matilah! Demi Tunas

  • Reporter Aziz
  • 17 November 2021
Matilah! Demi Tunas
Senja di selat Bengkalis. foto: aziz

Tragedi dan komedia, penghias sejati kehidupan? Maka juntaian kaki yang bergoyang dari celah daun lantai di sebuah rumah panggung, ikut merayakan kehidupan. 

Seorang yang mengesip garam, jangan harap membangun monumen. Monumen bagi dia tak lebih dari rasa yang tertinggal di ujung lidah: Menghilang. 

Sepanjang hidup, manusia menjalani serangkaian kematian. Tak disadari. Kematian itu melahirkan sejumlah kehidupan baru: terjadi dalam tubuh. Kematian dan pergantian sel.

Tubuh ialah alam. Alam kecil yang “menjelaskan” alam makro yang melakukan persalinan antara hidup dan mati yang jalin berjalin, demi tunas baru. 

Malam datang merayap, lalu membungkus siang: gelap. Sebaliknya, siang datang juga merayap untuk memeluk malam: terang. 

Kedatangan dua fenomena alam ini tidak berlari, tapi berangsur-angsur, perlahan dan pasti. Begitulah kematian dan kehidupan.

Malam, ibarat kematian, datang membunuh siang; perlahan-lahan. Siang, laksana kehidupan, datang membunuh malam; juga perlahan, merayap. 

Baca juga: Pohon = Sejarah?

Antara siang dan malam, adalah arkian hidup dan mati; saling menggenapkan, tak mengasing dan mengganjilkan.

Kehidupan akan ganjil tanpa kematian. Bayangkan makhluk yang sezaman nabi Adam masih hidup dan bergentayangan sampai hari ini. 

Dia tak memberi kesempatan pada percabangan baru dan tunas baru bagi kehidupan generasi (dia) berikutnya. 

Juntaian ranting generasi itu akan melapuk dan membal. Dia menjadi makhluk yang paling egois, sekaligus menjadi beban bagi kehidupan.

Untuk itu pohon harus tumbang dan mati, demi menyediakan kehidupan kepada tunas dan tetumbuhan baru yang melanjutkan rangkaian kehidupan dan merayakan kedatangan hujan yang baru. 

Hujan juga dimaksud untuk menghidupkan, sekaligus (dengan kadar yang besar) demi melahir banjir bandang, jua membawa kematian. 

Kematian via banjir ini diperlukan untuk kelahiran tunas-tunas baru. Banjir bak “instrumen penggoda”.

Bencana alam demi kehidupan baru. Juga membangun kesadaran baru terhadap orang yang ditimpa atau yang beroleh kabar tentang itu. 

Demikianlah perang, sebuah bencana yang dibuat oleh manusia. Amat diperlukan agar orang memetik hikmah dari perang; setelah perang negara-negara yang terlibat dalam peperangan membangun kembali bangsanya dengan kesadaran tinggi (menjadi maju).

Lewat perang, bangsa itu menerjemah makna kemanusiaan sekaligus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan: lahirlah prinsip-prinsip hak asasi manusia. 

Semua itu melahirkan percabangan dan tunas kesadaraan yang luar biasa. Tak terduga sebelumnya. 

Jangan pernah melihat bencana sebagai siksaan semata. Padahal membawa hikmah dan fadilat
bagi kelangsungan hidup muka bumi.

Dulu amat mudah menjadi pemimpin di negeri ini. Prosesnya mudah, pemilihannya singkat, pelantikannya wah, mewah. Tapi dampaknya? 

Kita hanya menyaksikan sejumlah tragedi dan komedia: pemerintahan yang sibuk mengurus serangkaian “upacara kerajaan”, menari sana, menari pula di sini, berpantun sana, berpantun pula di sini. 

Para bupati dan gubernur hanya bekerja sampai hari Rabu di wilayah masing-masing. Rabu sore meninggalkan negeri ini ke tanah-tanah jauh dengan beribu hujah; menjemput investasilah, konsultasilah, padahal semua itu cha cha marica.

Sekarang, untuk jadi pemimpin di negeri ini agak tersendat. Menjalani proses dan waktu yang amat rumit. Jangan mudah mengklaim kemenangan. Lihat fenomena pemilihan di sumbu politik Indonesia; ada fenomena Ahok dan pelawan Ahok. Jokowi dan Prabowo” Serang dan perang.

Oligarkhi tradisi “warisan dinasti kuasa” ke ranting-ranting baru. Mereka menyebut sebagai kejutan; namun tak sedikit pula menyela dalam idiom-idiom mengejek, mencemeh demokrasi. Walhasil, elok tak bermulus-mulus di awal-awal.

Di sini, kita didesak belajar hikmah. Agar jika kelak di kursi kekuasaan, jangan sombong, tak mengulangi kesalahan yang sama. Menghabiskan anggaran serba sia-sia. 

Nukillah sebagai bagian dari kedatangan siang yang serba merayap membungkus malam. Ketika segala cobaan yang tengah dijalani oleh pasangan pemenang, dibungkus oleh pekatnya malam, namun
yakinlah bahwa siang pasti datang, jika tak hendak merasakan kiamat.

Baca juga: Ihwal Akar

“Mengantuk itu enak, tapi mati lebih enak lagi. Namun yang lebih enak lagi dari keduanya adalah tidak lahir sama sekali”, ujar Schopenhauer. 

Lalu sang eksistensialis Nietzsche berujar pula tentang pesimisme kehidupan: “kehidupan ialah beban. Hidup adalah tragedi. Manusia diciptakan untuk memikul beban itu. Tersebab itu, maka bergembiralah dengan kematian. Sebab, dengan kematianlah kita terbebas dari segala beban itu”. 

Kematian itu ialah sebuah suasana, “state of mind”. Sebuah kenyataan yang bergerak, lalu diam. Kaku, beku dan melapuk.

Maka, mendiamkan badan dari gerak dan mematikan ide sejenak, sejatinya kita tengah menjalani kematian demi melahirkan berjuta tunas pemikiran baru. 

Ibarat pergantian sel dalam tubuh yang memerlukan kematian sel per menit dalam jumlah 13 milyar sel, maka, menjenakkan “diam” beberapa saat ialah jalan bijak untuk membebaskan beban itu, demi menyongsong siang yang menghangat. 

Namun, jangan berharap gegas serba kecipas, dia pun datang dengan merayap…

Editor: Abdul Aziz