Siku Kata 

Mengapa Jazz?

  • Reporter Aziz
  • 03 Oktober 2021
Mengapa Jazz?
John Coltrane. foto: Pitchfork.

Jazz dan kota-kota gemeretap. Dulu, hingga kini orang lebih terpukau dan terkesima jika musik itu disertai lirik. Sebab, musik tanpa lirik, bak bejana kosong tanpa doa. 

Maka, orang pun menyukai musik pop. Sebab, musik pop memberi kelonggaran dan kelongkahan demi
hadirnya juntaian lirik dalam kerimbunan musikalitasnya. Musik pop selalu menyelipkan lirik di dalamnya. 

Sejatinya musik dengan rajutan dan framing bangunan bunyi itu sendiri adalah ‘kerimbunan kata-kata’ yang diikat dalam alunan ritme yang berpembawaan universal.

Para pemula dan penikmat jazz boleh berkata; “Aku belajar bahwa jazz memiliki kekuatan untuk menolong semua orang yang bersedia terlibat di dalamnya. Beberapa orang berpikir bahwa musik dapat menjadi sarana untuk berkomunikasi hanya jika disertai lirik”. 

Baca juga: Merumah

Untuk itu orang mudah gamang dan gayang dengan jazz, karena jazz hadir dengan minimalitas kata-kata atau lirik. Yang diutamakan dalam jazz ialah kekuatan improvisasi bunyi dan melampaui sesuatu yang ada di belakang bunyi, termasuk gerak dan permainan bunyi bibir.

Jazz, hadir bak cabang seni lain; seni pertunjukan, puisi atau pun fine art, luhung dan kudus. Seniman dari masing-masing cabang seni itu mampu membawa kita melayang dengan suasana yang mereka konstruksi di depan kita selaku penonton.

Kala mereka menangis, kita pun ikut tersedu-sedan. Ketika mereka bersimbah semangat, kita pun terikut dalam gairah semangat yang meluap dan mendidih. 

Lalu? Di sinilah jazz, karena biasanya tanpa lirik dan minim lirik, dia memberi kesempatan kepada para musisinya untuk mengekspresi keberadaannya yang lebih mendalam, intens dan jeluk meliuk, lebih variatif dan senantiasa berubah. Sebuah keabadian tentang perubahan.

Coltrane tampil dan hadir di depan beribu mata yang menyorot ke panggung berbinar. Ketika itulah seorang pemula jazz, merasakan nikmat jazz yang mendorong dia “memahami” alias “understanding of the world” (pemahaman tentang dunia dan kehidupan). 

Coltrane memberi rempah dan bumbu kepada seorang pemula jazz tentang bau, aroma tentang pemahaman semesta; ya dari bunyi dan bebunyi. Memahami tidak melalui jalan pikiran, melainkan dengan hati. Wauuu musik membongkar kejelitaan hati dan ‘ratu pemahaman’ tentang kesemestaan.

Penonton dan para musisi yang berada di sekitar Coltrane berujar lemah dan pendek-pendek; “musik yang dimainkan Coltrane terasa masuk akal dan masuk akal”. 

Bahkan di kalangan seniman musik sering terkejut dengan penemuan mereka sendiri di dalam pengembaraan bunyi ketika sedang bermain musik dalam larut “mabuk” kejelitaan bunyi.

Terkadang memanfaatkan keterkejutan itu untuk menjinakkan banteng liar yang tengah mengamuk. Di sini musik adalah sebuah “lingua franca” (musica-franca), bahasa komunikasi; kala kita memahami lagu dari bahasa itu, kata-kata tak diperlukan lagi. Lagunya adalah bahasanya.

Begitulah jazz hadir dalam kesemestaan seni. Dia adalah sekumpulan bahasa tentang doa, tentang sesuatu yang dipanjatkan untuk menuju ketinggian tak terpemanai. 

Jazz memungkinkan orang membangun sebuah bahasa dari perasaan mereka sendiri lalu digunakan bahasa ini secara personal untuk menggambar dan menyampaikan perasaan mereka tentang dunia. Mungkin anda pernah mendengar alunan Louis Amstrong atau pun Thelonius Monk? Semuanya menggesa kepada diri yang jati dan penuh percaya diri.

Seorang saksi pemula tentang jazz berujar secara mengejutkan: “Dulu aku mengira seni itu tidak ada gunanya. Sekarang lebih dari tiga puluh tahun kemudian, aku berani bersumpah bahwa kekuatan seni, lebih khususnya jazz, mampu meningkatkan kualitas hidup anda secara berkelanjutan”. 

Malah lebih jauh dari itu, dia percaya, setelah melihat kehidupan sang ayah sebagai seorang musisi bersama rekan-rekannya yang penuh percaya diri dalam menjalani hidup ini, hal ini dimungkinkan oleh kedekatan mereka dengan seni. 

Seni itu memang sebuah mantera, sebuah warta dan sebuah gairah yang membunuh jemu. Beberapa kaidah tua zaman nenek buyut sang pemula tentang kehidupan: Agama dapat menjadi saluran yang menenangkan dalam hanyutan tak terpemanai ketika kita mengalami goncangan. 

Kata sang pemula mengutip ucapan sang nenek: “Semuanya akan lebih baik saat kita meninggal atau mati”. 

Agama adalah instrumen terbaik untuk menghindari gegar dan goncangan kehidupan. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan (dalam degub hati sang nenek). Itulah mantera yang diucapkan oleh generasi yang sezaman dengan nenek ku.

Kata sang pemula jazz. Muncul mantera berikutnya; “Tuhan menginginkan kita mengampuni dan menyayangi mereka yang menyakiti kita”. 

Dilanjut ucapan mereka yang merasa paling suci; “Orang-orang lain tersesat karena tidak memiliki hubungan personal dengan Tuhan --- ya, Tuhan kami”. 

Inilah bentuk-bentuk ekspresi dari generasi ke generasi tentang pentingnya jalan langit yang menjadi pilihan damai dalam mengarungi hidup. Dia akan menjadi kian lengkap oleh upaya-upaya manusia yang senantiasa gelisah, agar hidup senantiasa genap dan tak gazal.

Seni menjadi pendorong keterlibatan kita dalam dunia. Tak hanya dunia sekitar, melainkan dunia menyeluruh. 

Seni tak hanya mendorong kita untuk mecungkil dunia Tokyo, Toronto, Rio de Jeneiro, Johannesburg, Seoul dan Abu Dhabi, pun menguak dunia lebih besar yang berisi ide, konsep dan perasaan yang bersangkut paut dengan sejarah serta kemanusiaan.

Sebuah proses pencarian tanpa akhir menuju kematangan; bertanggung jawab secara personal. Apresiasi terhadap keragaman budaya. Ritus yang menumbuhkan semangat, elan vital, antusiasme terhadap perubahan, senantiasa dahaga terhadap hal-hal tak terduga.

Sang pemula mulai gairah jazz dan berkata: ”Jazz memberi kita sebuah perspektif sejarah, akseptansi spiritualitas atas hal-hal yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain, optimisme abadi tentang perubahan” dan setumpuk asa yang senantiasa harus dilayari dan dilayani. Oleh manusia. Sekali lagi, manusia...


 

Editor: Abdul Aziz