Dewandaru 

Menghargai Kesempatan

  • Reporter Aziz
  • 19 November 2021
Menghargai Kesempatan
ilustrasi. foto: dok. pribadi

Mentor bisnis saya dulu berpesan "hargailah kesempatan" sebaik mungkin. Karena kesempatan tidak selalu hadir setiap saat. Bahkan kesempatan emas jarang sekali hadir. 

Bahkan kesempatan anggapan sebagian orang, terjadinya karena diciptakondisikan. Dalam konteks modal usaha nilai dari kesempatan tatarannya urutan kedua setelah kepercayaan.

Contoh:
1. Piring dan gelas tidak semua orang diberi kesempatan. Tapi yang diberi kesempatan punya piring dan gelas kadang tidak hati-hati memperlakukannya. Lalu benturan tidak utuh lagi, kadang hingga retak bahkan pecah.

Ketika piring dan gelas sudah terlanjur tidak utuh lagi. Tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Baru begitu terasa sangat besar manfaatnya. Baru terasa janggal, terasa tidak lagi seperti biasanya. Sesal di hati.

2. Pejabat publik misal Bupati/Walikota/Anggota Dewan. Tidak semua insan dapat kesempatan dimuliakan olehNya. Punya jabatan agar bisa mengatur masyarakat supaya lebih baik lagi hidupnya. Agar nama baiknya harum bersejarah, karena manfaat bagi orang banyak sangat dirasakan nyata adanya.

Tapi, tidak menghargai "kesempatan emas" terlibat korupsi dan tertangkap KPK. Pasti jika orang tersebut berasal dari keluarga baik-baik akan sangat malu dan menyesali. Bagai menjemur pakaian dalam orang tuanya di atas bukit. Sesal tiada arti.

Baca juga: Kekuatan Merk Perorangan

3. Pelaku usaha, dapat kesempatan juga yaitu kepercayaan. Bisa memasarkan produk laris manis labanya sehat tanpa memakai modalnya sendiri. Begitu juga jadi rekanan usaha boleh jadi supplier produk, tapi didanai duluan. Karena dipercaya.

Tapi kesempatan itu disia-siakan. Alhasil, tiap kali transaksi harus dibayar duluan. Baru boleh bawa barangnya. Harus punya modal sendiri jumlah besar dengan prosedur sangat ketatnya hal mutu. Karena tidak lagi dipercaya. Karena kesempatannya tidak dihargai.

4. Profesional, dari sekian banyak pelamar hanya 5% yang diterima termasuk dirinya. Tapi malas membekali diri baik karakter dan kapasitas kinerjanya. Lalu gagal, disalip oleh lannya. Karena tidak menghargai kesempatan. Masa depan terang benderang berlalu begitu saja.

Bahkan ada lagi, yang tidak menghargai kesempatan. Menodai kepercayaan pimpinannya. Mentalnya tidak loyal. Kapasitasnya tidak mumpuni. Ibaratnya, mau membasahi kertas harus dicelup total. Tidak cukup dengan beberapa tetesan air saja atau kerlingan mata saja.
 

Editor: Abdul Aziz