Siku Kata 

Padahal (Memang Padahal)

Padahal (Memang Padahal)
Prof Yusmar Yusuf dalam satu kesempatan berada di Amsterdam. Foto: ist

Padahal, memang sudah nasib dikandung badan. Tuah jua nan ditolak. Padahal, kita telah melaksanakannya, tapi karena belum diekspos, maka orang-orang di luar sana sibuk menggedor rumah kita lewat microphone, via lolongan suara, lewat ketukan daun pintu. 

Atau malah yang paling halus; lewat bisikan: "Sudah shalat? Sudah baca Quran? Sudah puasa? Sudah bayar zakat? Apakah anda sudah naik Haji ke Baitullah?" 

"Dunia kepo," ujar anak-anak muda lirih. Segala ingin tahu dan diketahui: peran bak Call Center pada sebuah mall. Sampai ke urusan dompet dan dapur orang pun harus tahu. 

Lalu? Apa maksud dari perilaku pelapukan ‘transparansi’ ini? ‘Padahal’ adalah sebuah kata atau ayat yang lunak dan licin. Namun, di belakang kata ini (padahal), orang bisa berlindung dari tindakan riya dan ‘ujub

Dua laku yang amat dihindari oleh orang-orang berilmu tinggi (apakah burhani atau pun khasyaf), apatah lagi yang telah mencapai maqam "al-ilm al-laduniyi", laksana Khidir. 

Biarlah dia hanyut dan menghanyutkan diri bak kapar-kapar di batang air. Hadir dengan misterinya sendiri. 

Baca juga: Resital Kedunguan

‘Padahal’ itu sendiri memiliki makna di belakang makna, di belakang inti makna, makna inti di belakang inti, makna zarah di balik zarah, berbilik-bilik makna serba atomic yang menjulur di belakang zarah itu lagi. Demikianlah…

Maka, festival kesalehan pun berlangsung gegap gempita. Ya, pada sebuah bulan yang menyandang ‘kehebohan mayoritas’. 

Padahal sejauh ini, para mayoritas boleh dikatakan telah memfestivalkan kemenangannya saban hari lewat pengeras suara dengan segala macam tema ceramah; mengajak, mengancam, mengejek, terkadang melawak. 

Semuanya ini tergantung "selera pribadi" sang pemutar tema ceramah itu. Padahal pula, yang pemutar tema itu, sama sekali tak mendengar atau malah tertidur pulas he he he.

Belum lagi kehebohan di media-media elektronik semacam TV. Kita bersyukur hidup di negeri yang banyak jenis ceramahnya; sehingga kita diberi ruang kanal dan channel yang ragam serta variatif. Tinggal pilih suka yang mana, mau bentuk apa, gaya apa, bumbu apa dan seterusnya.

Ihwal kesucian, perihal kedekatan (taqarrub), kisah kesalehan secara personal, tak perlu diumbar-umbar atau dimajeliskan dalam nada muktamar atau dalam gaya seminar akbar.

Namun, kita menaruh hormat pula kepada mereka yang mampu menutupi kealiman dengan gaya serba biasa saja. Tak pernah tampil mengesankan dia seorang haji lewat emblem-emblem fisikal (padahal dia sudah menunai ibadah haji 10 kali ke tanah suci); ada seorang alim yang bangun pada dua pertiga malam. Tau-tau istrinya terbangun juga pada saat yang sama. 

Si orang alim ini, lanjut membaca buku di bawah sinar terang lampu baca. Padahal ia bangun sejatinya ingin mendirikan shalat tahajud. Tapi, dia senantiasa merawat hati, tak seorang pun boleh tahu, dia seorang pengamal shalat tahajud. Setelah sang istri mendengkur, dia bergegas tahajud dalam senyap dan takzim… hanyuuut.

Di sini, kata ‘padahal’ bermain lincah; tak mengesankan diri sebagai seorang haji (padahal dia…); tak mengesankan seorang ahli tahajud (padahal…); tak terkesan orang yang suka bersedekah dan infaq (padahal tanah yang telah diwaqaf lebih dari 20 hektar); tak mempertontonkan kekayaan lewat… padahal garasenya seukuran showroom mobil, padahal (kebun sawitnya? Sila isi… he he ); di sini, kata ‘padahal’ menguntum, dan membangun tembok api. 

Tak mengesankan diri sebagai seorang yang takzim berpuasa, padahal sejatinya dia adalah orang paling taat menjalankan puasa sunah Senin-Kamis. Tak banyak berkata, padahal berilmu.

Tak perlu mempertonton gelar-gelar akademik (apatah lagi gelar yang belum diperoleh), padahal dia adalah seorang penuntut ilmu yang paling tinggi dengan karya-karya ilmiah yang terbit di jurnal internasional berakreditasi.

Sebaliknya? 'Padahal' sebagai sebuah kata, juga bisa melindungi seseorang dari kesan pelaku munkar dan fasyik, syirik. Sejatinya, dia selalu menjerit-jerit tengah malam; sahuuursahuuurr… dengan suara keras dan melengking (dengan maksud membangunkan orang-orang untuk makan sahur), padahal dia tak pernah menunaikan fardhu puasa sekalipun. 

Dia pula yang paling sibuk menyusun kaleng-kaleng pelita lampu pada festival colok di Bengkalis sana, full sejak awal ramadhan sampai putus khatam kalender ramadhan; sekali haram dia tak pernah berpuasa. 

Dia pula yang paling keras suara mengajak orang bersedekah, memperbanyak infaq, padahal, dia tak pernah mengulurkan kelebihan rezeki kepada yatim piatu atau faqir. 

Ada yang mengaku-ngaku hanya seorang petani sawit, padahal luas kebun pribadinya ratusan hektar. Ada pula yang mengaku-ngaku seorang Doktor, padahal masih dalam cita-cita. Ada pula ngakungaku seorang Profesor, padahal melihat bumbung atap kampus aja gamang.

Baca juga: Upih

Maka, ‘padahal’ sebagai kata datang dengan dua tangkai fungsi; fungsi pagar api, sekaligus fungsi pagar air. Agar api tak merambat jauh dan merentungkan apa-apa yang ada di sebelah sana, ‘padahal’ datang menembok api itu agar tak larat ke lahan sebelah dan melahap segala bangunan yang ada. 

Demikian pula, 'padahal' dengan kelicinannya datang bak pematang kaku, demi menahan arus air bah di seberang sana, agar tak menabrak ruang-ruang kuntum surga di sebelah sini. 

Maka, kehidupan berjalan laksana harum kasturi berkat kehadiran sang 'padahal' itu. Betapa banyak umat berlindung diri dari segala fitnah sosial di balik kata ‘padahal’. 

Betapa banyak kaum yang terselamatkan oleh kata 'padahal', tak terhitung jumlah orang-orang yang
terangkat marwahnya di depan publik, tersebab kemampuan 'padahal' menyulap dalam nada remote control (dari jarak jauh), dia hadir bak mahnikam. 

Berapa banyak anak-anak yang hilang oleh zaman, kembali pulang, berkat kata 'padahal'. Tak terjumlah secara kualitas, anak-anak yang selamat dari kepungan kejahatan lingkungan hasil pembakaran hutan pada musim kemarau dengan alasan pembukaan lahan, berkat kehadiran kata 'padahal'. 

Di sini, kata 'padahal' datang bak pukau, laksana jampi, cuca, wafak, setual mantra, benda keramat, syihir, dan sejumlah tindakan shaman (pedukunan) yang membalikkan segala ihwal dan peristiwa menjadi sesuatu. Bahkan sebaliknya; sesuatu yang berubah sontak menjadi halihwal… 

Haiiii entahlah, padahal… 


 

Editor: Abdul Aziz