Jakarta, elaeis.co – Struktur pasar tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia dinilai masih menunjukkan pola oligopsoni, di mana jumlah pembeli terbatas dibandingkan jumlah produsen. Kondisi ini membuat posisi tawar petani sawit, khususnya petani swadaya, masih lemah dalam rantai pasok industri.
Dewan Pakar DPP APKASINDO, Dr. Gusti A. Gultom, M.Si., menjelaskan bahwa dalam sistem pasar seperti ini, harga TBS lebih banyak ditentukan oleh pembeli atau pabrik kelapa sawit (PKS), sementara petani berada pada posisi sebagai penerima harga (price taker).
“Pasar TBS cenderung oligopsoni karena pembeli terbatas, sementara petani sangat banyak dan tersebar. Akibatnya, daya tawar petani menjadi lemah,” ujarnya dalam sebuah tulisan, Kamis (7/5).
Ia menambahkan, secara teknis satu PKS membutuhkan pasokan dari areal perkebunan sekitar 6.000 hektare agar dapat beroperasi efisien. Kondisi ini membuat PKS terkonsentrasi di wilayah tertentu dan tidak merata secara geografis, sehingga akses petani terhadap pasar menjadi tidak selalu terbuka.
Menurutnya, meskipun jumlah PKS secara nasional cukup, pada praktiknya petani swadaya masih menghadapi hambatan distribusi, biaya transportasi tinggi, serta ketergantungan pada pengepul atau tengkulak sebelum sampai ke pabrik.
“Rantai distribusi yang panjang membuat bagian harga yang diterima petani semakin kecil. Ini diperparah dengan biaya angkut dan keterbatasan akses langsung ke PKS,” jelasnya.
Dalam situasi tersebut, keberadaan PKS tanpa kebun atau PKS non-integrasi turut menjadi sorotan. Model pabrik ini dinilai lebih fleksibel karena tidak terikat pada kebun inti dan berpotensi membuka akses pasar lebih luas bagi petani swadaya.
PKS tanpa kebun disebut dapat memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan kompetisi pembelian TBS di tingkat lokal, sehingga berpotensi menciptakan harga yang lebih kompetitif bagi petani.
Namun demikian, ia menekankan bahwa keberadaan PKS tanpa kebun bukan tanpa tantangan. Tanpa pengaturan yang baik, model ini berpotensi menimbulkan persoalan baru seperti ketidakterbukaan harga dan standar kualitas yang tidak seragam.
“PKS tanpa kebun bisa menjadi alternatif penting, tetapi harus diiringi regulasi yang jelas, transparansi harga, dan penguatan kelembagaan petani,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama industri sawit rakyat bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada struktur pasar yang belum sepenuhnya berpihak pada petani. Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memperkuat posisi petani, termasuk melalui koperasi, perbaikan infrastruktur, serta sistem pasar yang lebih terbuka.
Dengan kondisi tersebut, isu oligopsoni di pasar TBS kembali menegaskan bahwa tantangan utama industri sawit tidak hanya terletak pada sisi hulu produksi, tetapi juga pada ketimpangan struktur perdagangan di tingkat hilir yang masih membatasi kesejahteraan petani.
Pakar Bongkar Fakta Oligopsoni TBS Sawit, Petani Disebut Masih Terjepit Sistem Pasar
Diskusi pembaca untuk berita ini