Jenggi 

Paradoks Panda dan Rahasia Hiu

  • Reporter Aziz
  • 03 Januari 2022
Paradoks Panda dan Rahasia Hiu
ilustrasi orang dengan ragam keahlian. foto: medicalnewstoday.com

Dunia telah melewati suatu pertengkaran kecil antara kaum generalis serba bisa dengan kaum spesialis yang muncul belakangan. Antara Rahasia Hiu dan Paradoks Panda.

Betapa lebarnya kartu nama para ilmuan klasik jika semua profesinya ditulis sekaligus seperti ini: matematikawan, astronom, meteorologiwan, geolog, ahli ilmu hewan, ahli botani, farmakolog, agronom, arkeolog, etnograf, ahli kartografi, penyusun ensiklopedia, diplomat, insinyur herdraulika, penemu, rektor universitas, menteri keuangan, dll.

Mereka benar adanya. Pemilik kartu nama itu adalah Shen Kuo, seorang genius abad ke – 11 dengan temuannya antara lain kompas magnetik dan fosil. 

Itu baru pekerjaan resmi, di samping perkara lainnya yang ia tekuni dengan suka ria seperti menulis puisi dan menggubah musik.

Shen adalah Leonardo da Vinci-nya Cina. Seperti Leonardo, dia merekam ide–idenya dalam sebuah buku catatan, pernah hilang berabad–abad dan ditemukan belakangan ini. 

Baca juga: Paradoks Utopia

Sebagaimana ilmuan–ilmuan Barat yang menaruh minat amat banyak pada segala bidang, ilmuan–ilmuan Muslim hampir mudah ditemukan secara acak adalah seorang generalis, multitalenta.

Ilmuan Muslim terlebih dahulu membuka pintu gerbang itu, mereka memperkenalkan kesaktian trio Socrates, Plato, Aristoteles–yang ketiganya memiliki “kartu nama” terpanjang pada masanya, ketika Eropa masih diselimuti kabut pekat kebodohan.

Jazirah Padang Pasir pernah melahirkan banyak sarjana dan ilmuwan hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya sebelum tongkat estafet keilmuan diteruskan oleh pemikir Eropa. 

Bukan seorang mengambil satu spesialisasi, tapi hampir semua diborong dengan cemerlang oleh orang per orang.

Di antara sebaris nama, sebutlah al-Farabi yang dikenal sebagai fisikawan, kimiawan, filsuf, ahli ilmu logika, ilmu jiwa, metafisika, politik, musik, dan masih banyak lagi yang dilakoni secara serentak. 

Filsuf Muslim terkemuka lainnya adalah Ibnu al-Haitham, biarpun ia lebih dikenal dalam bidang sains dan medis, tetapi juga ahli dalam bidang agama, falsafah, dan astronomi.

Indonesia sedikitnya memiliki Umar Kayam, merupakan sosok serba bisa yang pernah hidup dan berkarya di republik ini. Ia berprofesi sebagai dosen, ilmuwan, pejabat, cerpenis, hingga pemain film. 

Ayahnya, memberinya nama Umar Kayam karena terinspirasi pada seorang generalis sufi, filsuf, ahli perbintangan, ahli matematika, dan pujangga kenamaan asal Persia yang hidup pada abad ke-12 bernama Omar Khayam.

Kaum generalis kemudian mengkritik umat spesialis atas asumsi bahwa mereka terlalu mengkotak-kotakkan pekerjaan dan mengkhususkan segala sesuatu yang dianggap mudah dan bisa dilakukan sekaligus tapi dipecah-pecah menjadi beberapa macam profesi. 

Misalnya ilmu fisika yang mulai diturunkan menjadi keahlian mekanika, keahlian teori, energi kuantum, keahlian konsep gaya, impuls, momentum, relativitas, listrik dinamis dan statis, cahaya dan bunyi.

Sementara kaum spesialis berpikir bahwa spesialisasi merupakan jalan tepat dalam penguasaan salah satu aspek dalam kehidupan manusia secara komprehensif. Kedalaman dianggap lebih penting dari jarak.

Meskipun tidak holistik yaitu tidak menguasai seluruh bidang ilmu, namun spesialis menekankan pada keunggulan optimal pada salah satu bidang saja. 

Baca juga: Dialog Socratik

Sisi buruknya sebagaimana yang diprediksi kaum generalis mereka sangat rentan terhadap ketidaktahuan dan ketergantungan pada orang lain.

Sebagai contoh adalah hubungan antara dokter dan ahli farmasi. Pada zamannya dahulu, seorang dokter adalah profesi yang dapat menangani sekaligus memberikan obat pada pasien. 

Namun pada masa kini peran pembuatan obat itu diserahkan kepada ahli farmasi sehingga tugas dokter menjadi semakin sempit, yakni hanya memeriksa dan mendiagnosa pasien untuk kemudian diberikan racikan obat yang harus ditebus lewat apoteker.

Pekerjaan dokter terus menyempit menjadi spesialis ini itu, misalnya spesialis gigi, kemudian spesialis bedah mulut, spesialis THT dan seterusnya, justru pada area yang sangat berdekatan.

Spesialis berkembang ketika kondisi ekonomi stabil, tetapi apakah para spesialis lebih unggul ketika pasar tenaga kerja menjadi tidak stabil? Sementara masa depan penuh turbulensi dan ketidakpastian. 

Ditarik dari laman chi.pro, fenomena spesialis dapat dianalogikan ke dalam Paradoks Panda. Panda raksasa sering digambarkan sebagai jalan buntu evolusioner, sebagai beruang pemalas yang berjuang untuk bereproduksi dan hidup dari pola makan monokultur bambu. 

Mereka adalah spesialis ulung, mampu berkembang di ceruk tersempit, tetapi tidak dapat beradaptasi dengan cukup cepat terhadap perubahan dramatis yang ditimbulkan dunia modern pada lingkungan mereka. 

Masuk akal untuk menyatakan bahwa evolusi mengarah ke spesialisasi ekstrem ketika kondisi lingkungan stabil. 

Panda telah ada selama sekitar delapan juta tahun menurut catatan fosil. Namun menjadi paradoks ketika ditemukan bukti bahwa preferensi bambu sebagai satu-satunya hanya berusia sekitar 7.000 tahun. 

Spesialisasi mereka kemudian berspekulasi sebagai akibat dari perambahan manusia terhadap lingkungan mereka. 

Ini adalah respons terhadap volatilitas, mekanisme darurat untuk bertahan hidup dalam kondisi buruk saat persaingan sengit. Artinya generalisasi tetap dibutuhkan dalam sejarah spesialisasi tertentu yang demikian panjang. 

Metafora Rahasia Hiu pula mewakili para generalis. Beberapa hewan yang paling sukses dalam indikasi sebagai berumur panjang dari suatu bentuk struktural tertentu, adalah generalis ulung yang juga paling resilient.

Hiu telah ada selama 450 juta tahun dan masih dapat ditemukan di sebagian besar habitat di seluruh dunia. Buaya juga telah muncul selama 250 juta tahun yang sejuk. 

Kedua jenis hewan tersebut adalah yang paling selamat dari peristiwa tingkat kepunahan bersamaan dengan beberapa periode pendinginan dan pemanasan global. 

Rahasia sukses mereka ternyata terletak pada fakta bahwa mereka adalah generalis diet. Mereka makan berbagai jenis makanan dan karena itu lebih bertahan jika sumber makanan tertentu menghilang.

Meskipun mereka tidak beradaptasi dengan baik pada setiap ekosistem dan tidak dapat mengeksploitasinya secara maksimal, mereka dapat melompat ke bioma lain jauh lebih mudah daripada spesialis.

Memilih menjadi seorang generalis berarti kita mengoptimalkan volatilitas, yang sepertinya merupakan taruhan yang tepat bagi ketakmenentuan dunia saat ini.



 

Editor: Abdul Aziz