Studi lain juga memperkuat temuan ini: Susila dan Munadi (2008), Joni et.al. (2012), hingga Goenadi (2008) menyebutkan bahwa jutaan orang yang terlibat dalam industri sawit berhasil keluar dari kemiskinan. Edwards (2019) menambahkan, sekitar 2,6 juta masyarakat Indonesia terdongkrak kesejahteraannya berkat pertumbuhan sektor ini
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2019) menegaskan, sejak 2000, sekitar 1,3 juta penduduk pedesaan dan 10 juta masyarakat Indonesia keluar dari kemiskinan berkat industri sawit.
Bahkan studi terbaru oleh Alamsyah et.al. (2020) menemukan bahwa ekspansi perkebunan sawit seluas sekitar 1 juta hektare mampu menurunkan satu persen jumlah penduduk miskin di desa dan kota.
Tak hanya di Indonesia, peran sawit dalam pengentasan kemiskinan juga terjadi di negara produsen lain seperti Malaysia, Papua Nugini, Nigeria, Ghana, hingga Kolombia. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi juga alat sosial strategis.
Selain menciptakan lapangan kerja langsung, dampak multiplier effect perkebunan sawit terasa di sektor lain. Perbankan, restoran, hotel, industri pengolahan makanan, manufaktur, hingga penyedia alat listrik ikut menikmati geliat ekonomi dari pertumbuhan sawit.
Dengan fakta ini, terlihat jelas bahwa perkebunan kelapa sawit mampu menjadi mesin pengentasan kemiskinan, sekaligus memacu pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Upaya memperluas dan mengembangkan sektor ini secara bertanggung jawab, sambil memperhatikan keberlanjutan lingkungan, akan memberikan manfaat ganda yaitu menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga Indonesia tetap menjadi pemain utama di pasar minyak sawit global.
Perkebunan Sawit Ternyata Bisa Jadi Mesin Pengentasan Kemiskinan, Ini Faktanya
Diskusi pembaca untuk berita ini