Masuk Agenda IOPS Forum 2026

Persoalan harga TBS tersebut diharapkan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026.

Menurut Siswanto, forum yang mempertemukan petani sawit dari berbagai negara itu bisa menjadi ruang untuk bertukar pengalaman terkait mekanisme penetapan hingga penerapan harga TBS.

Apalagi, persoalan ketimpangan harga tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga dapat memengaruhi minat pengembangan perkebunan sawit di wilayah Indonesia Timur.

Selain harga TBS, Siswanto berharap pemerintah memberikan kemudahan bagi petani dalam mengusulkan program ekstensifikasi dan pengembangan perkebunan.

Dia menilai persyaratan untuk petani, kelompok tani, maupun koperasi perlu dibuat lebih sederhana. Penyederhanaan tersebut tetap harus dilakukan dengan menjaga aspek tata kelola dan pengawasan.

“Untuk pengusulan ekstensifikasi, diharapkan regulasinya dapat dipermudah. Persyaratan bagi petani, kelompok tani maupun koperasi kiranya bisa disederhanakan sehingga lebih mudah diakses,” ujarnya.

PSR Sulawesi Tengah Capai 6.000 Hektare

Sementara itu, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Sulawesi Tengah pada 2026 telah mencakup sekitar 6.000 hektare.

Program tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Morowali, Morowali Utara, Buol, Banggai dan wilayah sekitarnya.

Siswanto berharap berbagai aspirasi petani tersebut bisa dibawa ke IOPS Forum 2026. Forum tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Agustus 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Bagi petani sawit Sulawesi, forum tersebut diharapkan bukan sekadar ajang pertemuan. 

Lebih jauh, IOPS 2026 diharapkan dapat mendorong solusi konkret terkait harga TBS, pengembangan perkebunan, hingga penguatan posisi petani dalam rantai industri sawit.