Siku Kata 

Qurban: Animal Symbolicum

Qurban: Animal Symbolicum
Prof. Yusmar Yusuf. foto: dok. pribadi

Ya, sebuah penanda. Hari Raya Qurban (Idul Adha) sebatas penanda mengenai momentum. Berkorban, sejatinya dilakukan manusia saban detik selaras gerak kehidupan. 

Penanda, bahwa perlunya sebuah keinsyafan, sebuah ingatan tentang “memberi dan berbagi”. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia harus bisa mengu(o)rban kepentingan diri sendiri demi tertib sosial. 

Kita belajar menahan diri untuk tidak berbuat semaunya. Belajar berkurban untuk kepentingan menepis nafsu diri sendiri demi kemaslahatan hidup bersama. Sebuah jalan demi menghindari sumber fitnah yang amat melukai kehidupan.

Di lebuh raya, kita adalah pengguna jalan raya yang paling progresif sekaligus dilematis. Jalan raya bersalin jadi sarang penyamun, medan pembantaian, medan laga dan adu kekuatan (fisik juga verbal). 

Segala sampah ditumpahkan; terutama sampah sifat asali dan sampah kata-kata. Instink agresi memperoleh panggung terlemak di atas jalan raya.

Baca juga:Gerak Tak Nipu

Seorang ibu rumah tangga yang lembut-gemulai kala di rumah, sekonyong-konyong bisa berubah jadi sosok beringas, tampilan gergasi, pribadi brutal dan pencarut dalam carutmarut sistem lalu lintas. 

Di sinilah sejatinya “sekolah berqurban” dilaksanakan; alias ‘mengorbankan’ kepentingan diri sendiri. 

Berhenti di perempatan jalan raya ketika lampu (traffic) merah menyala adalah cara memberi kesempatan kepada orang lain untuk bergerak (penanda hidup). 

Tak terbayangkan, jika semua orang memaksa diri bergerak, bagaimana postur kemacetan (naluri kematian) berlangsung sepanjang hari di negeri ini?

Kemacetan jalan raya di kota-kota besar, menggambarkan bahwa sejatinya warga bangsa ini belum terbiasa bertindak untuk ‘berku(o)rban’ dan ‘mengu(o)rban’ diri sendiri di tengah keramaian. 

Ihwal ini, sebagai maujud dari medan kejalangan manusia untuk senantiasa merawat “sifat-sifat kehaiwanan”: Berpacu mengedepankan ego di atas pentas lebuh raya. 

Ihwal setara? Ya, kehebohan bunyi yang bersumber dari pengeras suara dari rumah-rumah ibadah segala agama. Di sini, juga kita ingin belajar bagaimana ‘berkurban’ (bunyi dan nada) yang sejatinya harus dilantunkan dalam kesenyapan spiritualitas pribadi sang penghayat. 

Qurban dan proses qurban (sekali ini digunakan –Q- dan –q-) itu sendiri tak memerlukan ekspos yang berlebihan.

Masa pandemic adalah rehat panjang bagi bumi. Selama ratusan ribu bahkan jutaan tahun, bumi telah mengorbankan diri demi segala makhluk yang bertenggek di atasnya, jua manusia. 

Pada masa inilah kita belajar kembali untuk imla (mengeja), bagaimana sejatinya berkorban, berpadu-sama saling tolong-menolong dalam cakrawala serba sulit dan susah.
 
Berbagi kisah mengenai apa-apa yang mesti dilakukan, baik terhadap yang setara capaian ekonomi, apatah lagi kita harus mampu berbagi kepada kaum lemah (miskin). Tak pandang apa agama dan kepercayaan yang dianut.

Selama ini kita “mengambil” segala apa yang ada di atas dada dan perut bumi. Saat ini lah, kita belajar “memberi” kembali kepada bumi (Bumi: sila rehat sejenak!). 

“Memberi”ruang kepada makhluk-makhluk lain untuk berimprovisasi sesuai dengan inayah “tugas penciptaan” masing-masing. 

Semua ini adalah “medan kurban”. Penanda itu, laksana rambu atau sign board. Dia hanya sebatas memberi tahu, mengantar pesan; tugas manusia yang berakal dan berilmulah untuk mengiktibar dan menerjemah apa-apa yang melampaui di balik simbol-simbol penanda itu. Sebab, manusia adalah makhluk simbolik (animal symbolicum)

Secara simbolik, kejahatan dan kedurjanaan akan berulang dalam jelmaan-jelmaan lunak. Dia berbungkus kotak emas demokrasi, lembaga bantuan keuangan, tapi menjerat leher si penghutang.

Berqurban, adalah sebuah tiupan (ekspirasi) yang menolak udara keluar dari kantong pernafasan (memberi ruang jeda dan rehat sejenak). 

Sebuah halte untuk menarik nafas (inspirasi); selanjutnya diikuti dengan tindak laku “ekspirasi” (meniup demi menyentak kesadaran atau keinsyafan stoici-keinsyafan yang saling menguntungkan-).

Analogi benam dan penenggelaman; “lewat tangan putih monoteisme, kata Laleh Bakhtiar, Musa menenggelamkan Fira’un, membenam Qarun, memusnah Bala’am. 

Selanjutnya, para tukang syihir Fira’un menjadi anak-anak Aaron dan sahabat Musa, menguasai Pentateuch. Bala’am menjadi tanda Tuhan”. 

Ketiga simbol penjingkang monoteisme ini menjinak (berundur selangkah), lalu dengan lembut mencaplok Palestina atas nama ‘Tanah Terjanji’. 

“Revolusi Prancis mencungkil feodalisme; si tuan tanah Qarun dijatuhi hukum pancung di pinggir desa. Tapi, dia segera kembali ke kota menjadi seorang bankir. Leher Fira’un digilas silet raksasa guillotine revolusi, tersingkir dari istana Versailles. Tapi berbekal kekayaan Qarun dan ilmu sihir Bala’am, dia memunculkan kepalanya dari kotak suara demokrasi”. 

Qurban dan berqurban, memberi ruang kepada manusia untuk mengungkai jelmaanjelmaan lunak itu dan mengetahui persembunyian dan pengelabuannya. 

Di dalam peristiwa berqurban ada keikhlasan dan kesabaran yang melayani keinsyafan stoici dengan kadar yang lebih tebal. 

Sebuah gerakan keinsyafan dari “umran badawi” ke medan “umran hadari”...sergah Ibn Khaldun. Via Purgativa?


 

Editor: Abdul Aziz