Jenggi 

Rezim Apollo

  • Reporter Aziz
  • 30 Agustus 2021
Rezim Apollo
ilustrasi. foto: pinterest.com

Penyair Yunani kuna Hesidos berlagak, tidak satupun daun jatuh di Athena tanpa diketahui oleh Zeus. Tapi apa, the big boss para dewa dari gunung Olimpus ini akhirnya dimakzulkan. 

Begitu Romawi membantai Yunani, Zeus dilucuti, diganti dengan Jupiter. Bahkan seluruh oligarki dari rezim langit Yunani ditumbangkan. Kecuali Apollo.

Semisal dewa cinta Aphrodite ditukar dengan Venus, dewa perang Ares menjadi Mars. Ada 12 dewa Yunani yang harus memasuki masa pensiun muda, di antaranya Hera, Artemis, Demeter, Hephaistos, Hermes, Athene, dan Dionysos. 

Dengan sendirinya putera Zeus, Herakles segera dipecat dan digantikan dengan Hercules. Glorifikasi Romawi sangat kuat, sehingga seluruh dunia hanya mengenang Hercules, padahal dia adalah Herakles yang lain. Meski paling epik, Hercules hanya setengah dewa, ibunya gadis bumi bernama Alkmene. 

Berbeda dengan Apollo. Dia adalah putera Zeus yang lain dari dewi Leto. Dari seluruh anggota kabinet Zeus, Romawi hanya menyisakan Apollo. Dewa diva seni, medis, dan penyair ini tak ada padanannya di Romawi sehingga ia tetap disembah. 

Baca juga: Filsafat Perang

Apollo juga menjadi perlambang puncak peradaban manusia ketika berhasil menjejak bulan. Namanya ditancapkan pada proyek gingatis NASA, program Apollo pada 1960-an, dan sebuah kawah di bagian selatan bulan yang juga disebut Apollo.

Keruntuhan rezim Zeus adalah analogis. Setiap rezim akan tamat pada waktunya meski mereka menyandang kekuatan setingkat dewa. Kita telah banyak melihat contoh, rezim-rezim kuat di bawah atmosfer yang porak poranda di tengah jalan. Akibat begitu lama berkuasa dengan cara paksa.

Tidak juga ada yang baik-baik saja dengan rezim yang absolut. Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely, kata John Edward Dalberg alias Lord Acton. Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang absolut korup secara absolut. 

Untuk itu demokrasi menjadi penting, agar ada perguliran kekuasaan. Tapi apa, para penguasa melihat dirinya seperti Zeus, ingin berkuasa selama ia bisa. Oligarki yang mengelilingi istananya, lebih ingin hal yang sama. 

“Saya tidak tertarik mempertahankan status quo, saya ingin menggulingkannya," demikian Niccolò Machiavelli mengingatkan.

Bila tidak ada demokrasi yang mengatur secara paksa, petahana akan berkuasa selama masih bernafas, tak ada segan menyegan atau basa basi dalam politik kekuasaan. Oligarki selalu mencari akal untuk memanjang-manjangkan umur rezim dengan narasi error mereka.

Demokrasi dijalankan dengan menabrak logika, etika, dan estetika secara sekaligus. Sebagai Zeus di bumi, mereka menyiapkan Apollo sang putera mahkota, kalau-kalau kekuasaannya dirusak oleh para politisi Spartan. Zeus boleh tumbang, tapi Apollo akan meneruskan dinasti atau paling tidak satu irisan dari kekuasaan.

Sebagai ayah para dewa, Zeus menginginkan yang terbaik untuk putera mahkotanya, tidak untuk menjerumuskannya. Kekuasaan itu sangat hedon, seorang ayah (bahkan oleh ibu untuk anak perempuannya) paham betul dengan ekstase kekuasaan yang pernah ia rasakan, sehingga harus juga dirasakan oleh anak biologisnya. 

Maka demokrasi ala feodal dan politik dinasti melenggang kangkung di atas altar suci demokrasi tanpa ada rasa bersalah, bahkan malu.

Politik dinasti adalah cara klasik yang seringkali dimaafkan untuk merampok kesempatan orang lain dalam kontestasi demokrasi. Tidak ada dalil yang dapat membenarkan lelaku ini baik secara logika, etika, dan estetika dalam domain demokrasi.

Demokrasi diterjemahkan secara banal sebagai kontestasi dan orkestrasi belaka. Demokrasi lahir untuk membatalkan monarki, bukan menyamarkannya. Dan siapapun yang mengaku menjunjung demokrasi hari ini, mereka telah berdusta, atau bahkan tidak pernah tahu bahwa mereka berdusta.

Kondisi bernegara di manapun selalu serba tanggung. Tanpa diganggu oleh oligarki dan feodalisme, demokrasi sendiri punya titik lemah. 

Demokrasi tampak moderat karena mendahulukan keterwakilan (rakyat) tapi ia mengabaikan kepakaran. Selalu ada celah bagi masuknya kenaifan ke dalam sistem sebagai hasil menggelikan dari proses elektoral.

Sedangkan aristokrasi atau republikan, yang konservatif dan waskita, lebih mengutamakan kepakaran tapi mengabaikan keterwakilan. Mereka menutup celah bagi kelas inferior untuk memasuki wilayah kekuasaan. 

Andai keduanya, demokrasi dan aristokrasi berada pada campuran yang tepat dengan membuang unsur minornya, kita sedang memasuki kondisi ideal sebenarnya. Tapi apa? Sedangkan Apollo akan kembali membangun rezim untuk Apollo berikutnya. 



    
 

Editor: Abdul Aziz