B50 Jadi Sentimen Positif Saham Sawit
Selain harga CPO, kebijakan pemerintah di sektor energi juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong sentimen positif terhadap saham sawit.
Venus menilai percepatan implementasi bauran biodiesel B50 menjadi salah satu kebijakan yang perlu diperhatikan investor. Program tersebut berpotensi meningkatkan penyerapan CPO di pasar domestik.
Meningkatnya kebutuhan CPO untuk bahan baku biodiesel kemudian dapat memunculkan ekspektasi terhadap prospek industri sawit. Harapan terhadap kenaikan permintaan inilah yang dapat menjadi salah satu pertimbangan investor ketika mengambil posisi pada saham emiten perkebunan.
“Di mana ada harapan dan sesuatu yang menguntungkan, biasanya investor akan berlomba-lomba masuk. Tetapi harus dilihat juga, kenaikannya ini untuk jangka pendek, menengah, atau panjang,” kata Venus.
Dengan demikian, penguatan saham sawit di tengah karhutla lebih tepat dilihat sebagai hasil dari kombinasi berbagai sentimen, bukan akibat langsung dari kebakaran.
Sebaran Aset Ikut Jadi Pertimbangan
Investor juga perlu melihat lokasi dan sebaran aset perusahaan sebelum mengambil kesimpulan mengenai dampak karhutla terhadap suatu emiten.
Perusahaan yang memiliki perkebunan tersebar di berbagai wilayah dinilai mempunyai kemampuan lebih besar untuk mengompensasi gangguan produksi di satu lokasi melalui hasil panen dari wilayah lainnya.
Sebaliknya, emiten dengan konsentrasi aset yang tinggi di wilayah terdampak karhutla berpotensi menghadapi risiko lebih besar apabila kebakaran mengganggu kegiatan perkebunan.
Karena itu, menurut Venus, investor tidak cukup hanya melihat grafik kenaikan atau penurunan harga saham. Kondisi fundamental perusahaan, lokasi aset, kemampuan produksi, hingga risiko operasional juga perlu diperhitungkan.
Saham AALI dan LSIP Menguat
Venus mencontohkan pergerakan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Saham tersebut berada di kisaran Rp5.875 pada akhir Juni 2026 dan kemudian meningkat menjadi sekitar Rp7.338.
Sementara itu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatat penguatan setelah sebelumnya bergerak fluktuatif.
Pergerakan kedua saham tersebut menunjukkan bahwa penguatan emiten sawit tidak tepat dibaca sebagai respons terhadap satu peristiwa saja.
Selain faktor fundamental perusahaan, investor juga mempertimbangkan kondisi pasar global dan prospek industri sawit ke depan.
Saham Sawit Mendadak Menguat di Tengah Karhutla, Ternyata Ini Pemicu Sebenarnya
Diskusi pembaca untuk berita ini