Jakarta, elaeis.co – Pasar minyak sawit di Indonesia makin menunjukkan taringnya. Konsumsi domestik mencapai 12,99 juta ton sepanjang Januari-Juni 2026, naik 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12,27 juta ton.
Besarnya konsumsi tersebut dinilai bukan sekadar menunjukkan kuatnya permintaan dalam negeri. WWF Indonesia melihat angka itu sebagai peluang strategis untuk mempercepat transformasi menuju industri sawit yang lebih berkelanjutan.
Sustainable Commodities Lead WWF Indonesia Angga Prathama Putra mengatakan pasar domestik harus menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas berkelanjutan.
Penguatan permintaan di dalam negeri perlu berjalan bersamaan dengan perbaikan sektor hulu dan perluasan pasar global.
"Pasar domestik juga penting," kata Angga dalam Regional Learning Forum on Sustainable Commodities di Jakarta, Minggu (30/8).
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan konsumsi sawit domestik pada semester I 2026 mencapai 12,99 juta ton.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan pasar dalam negeri memiliki kapasitas besar untuk menyerap produk sawit.
Pada Juni 2026 saja, konsumsi minyak sawit domestik mencapai sekitar 2,20 juta ton. Biodiesel menjadi sektor dengan serapan terbesar, mencapai 1,13 juta ton.
Sementara itu, sektor pangan menyerap sekitar 878 ribu ton dan industri oleokimia sekitar 192 ribu ton.
Besarnya konsumsi domestik diperkirakan semakin strategis setelah pemerintah memberlakukan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan tersebut mendorong peningkatan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku energi. Dampaknya, serapan CPO di dalam negeri semakin kuat sekaligus mengurangi ketergantungan industri terhadap pasar ekspor.
Namun, WWF menilai peluang pasar domestik belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendorong produk sawit berkelanjutan.
Sawit RI Tembus 12,99 Juta Ton, WWF Soroti Peluang Besar yang Terlewat
Diskusi pembaca untuk berita ini