Siku Kata 

Sejarah: Tikam Jejak?

  • Reporter Aziz
  • 21 November 2021
Sejarah: Tikam Jejak?
ilustrasi. foto: maxmanroe

Karya sejarah mengandung narasi sekaligus demonstrasi. Sebagian berwujud novel, yang di dalamnya sejarah didekati dengan emosi kreatif. Juga terkandung konstruksi sosial, paling tidak konstruksi penulisnya. 

Karya sejarah yang berpembawaan naratif itu ialah sebuah upaya menjahit sejumlah peristiwa masa silam dan demonstrasi sebab akibat: menghidang “bunyi” dan “nada” dari peristiwa. 

Manusia ialah makhluk sang pemberi “makna” ke atas peristiwa. Lalu, kenapa sejarah dan karya kesejarahan amat dirindu? 

Ya, karena kehidupan adalah persoalan mata rantai ingatan. Fitrah manusia, sang pemikul lupa; berujung fasik dan fana. 

Ketika fana, segala ihwal tragis di masa lalu, bisa muncul dan terulang kembali dalam sejumlah pengulangan serba diam dan membodohi.

Kita yang terbodohkan oleh sejumlah pengulangan itu adalah makhluk yang buta ihwal demonstratif sebab akibat yang tersaji. 

Baca juga: Matilah! Demi Tunas

Muaranya? Perit, pahit dan menggetir kemanusiaan. Kebudayaan dalam bentuk apapun ialah kumparan sejarah yang bergerak progresif. 

Kita memandang masa lalu, bukan berarti hendak dan harus kembali ke alamat masa lalu. Tapi, tak lebih dari sejumlah ikhtiar yang dilakukan untuk memuliakan “kekinian” yang tengah digeluti. 

Masa lalu yang dijeling, tak lebih dari bahan baku sebagai upaya mengkonstruksi masa depan, di masa kini.

Dengan begitu, segala peristiwa masa lalu yang pahit dan memilu, tak perlu hadir lagi di masa depan. Ini juga bagian dari konstruksi “etika masa depan”. 

Pembangunan yang berorientasi pada “etika masa depan” adalah sebuah pilihan kreatif dan progresif. Di masa depan, segala organ fisikal dan mental kita kian lapuk dan melemah. 

Maka pada ketika itu pula kita harus menekan sejumlah peristiwa yang tak mungkin dipikul dengan “daya” seorang tua yang ringkih di masa depan yang juga lelah.

Urailah beban masa depan. Sebab daya dukung fisikal dan mental kita sejalan dengan pertambahan usia yang “menyenja”. Secara “hukum alam”, hanya mampu memikul beban yang sepadan dengan usia kalender dan usia mental (masa depan).

Kita menyaksikan peristiwa besar di negeri ini: tak lebih dari pengulangan-pengulangan atas kecuaian dan kebodohan membaca demonstrasi sebab-akibat. 

Pertama, tragico deforestasi (pencederaan dan penganiayaan kawasan hutan) yang menyayat hati. Apakah karena alasan devisa mabuk, industrialisme yang berseberangan dengan kenyataan menakutkan: climate change and global warming.

Kedua, comedia: penangkapan para koruptor dalam kasus hutan dan alih fungsi kawasan hutan. Pun, jebakan jenaka kawasan perkebunan sawit yang diklaim masuk dalam area hutan. 

Hamparan tragico-comedia yang terjadi secara serempak. Media massa dan media sosial bergumul: memposisi dirinya sebagai pengawal demokrasi yang mulai bertunas di tanah ini. 

Demokrasi, memerlukan keriangan yang terukur (rasional) bukan penghayatan emosional. Lalu, genderang kisah demi kisah yang terjadi dan menggulung di depan mata itulah bagian dari nukilan sejarah.

Kita tengah menggores sejarah demi sejarah dari serangkaian peristiwa yang terkadang tak kita sadari. Kita seakan berjarak dan terpisah dengan peristiwa itu, padahal kita adalah produsen dari peristiwa itu. 

Sang produser selalu lalai bahwa dia adalah sumber dari segala produk. Di sinilah tabiat sang pemikul lupa itu, terulang dan berulang-ulang.

Bak musik, sejarah itu menghasilkan bunyi, irama dan nada. Makna anagogis dari sejarah itu bisa bersifat pilu, sendu, pahit, getir, mengiris, menyayat, menghunjam lubuk hati, kelam, gelap, era emas, cemerlang, ranggi, teduh dan jumawa. 

Bandul jam sejarah itu bergerak di antara nilai-nilai anagogis. Jika hendak masuk ke era gelap dan kelam, maka tutup semua sekolah dan madrasah
di dunia ini. 

Tutup semua lembaga penyiaran dan penerbitan. Hentikan semua program pencerahan kemanusiaan di kampus-kampus dan pusat kebudayaan. Laksanakan saja “hukum besi” dan “hukum rimba” demi menyenangi birahi para “paduka”.

Namun, jika hendak masuk ke era cemerlang, lakukan sebaliknya. Uruslah negeri ini dengan benar, prinsip-prinsip keadilan, kesamaan, dan persaudaran yang diatur oleh sejumlah aturan main yang sehat dan terukur. 

Sejarah, sebenarnya tak lebih dari buku rapor, yang memperlihatkan ponten dari tindakan kita di masa lalu.

Dia adalah buku rekam tentang tabiat, perilaku, pembawaan dan akhlak kita terhadap sesama, terhadap organisasi, terhadap segala makhluk (yang nampak maupun yang tersembunyi); terhadap hewan dan flora baik yang di darat maupun di air.

Inilah kesejatian dari pembawaan sebuah buku rapor: jika dia berponten hijau membuat kita boleh menegakkan kepala di muka bumi. Dia pun bisa membuat kita terkulai malu, ketika ponten (nilai) itu segalanya merah pada semua lini.

Maka, sejarah tentang serangkaian peristiwa dengan semangat demonstratif sebab akibat, menjadi sebuah keniscayaan yang harus diakui keberadaannya dalam semua puak dan kebudayaan manusia. 

Dia bak stopwatch (bahkan argometer), yang memberi rekam jejak kecepatan dan kelajuan kita berlari. Ya, berlari di atas jalan kebudayaan yang tengah dibentang.



 

Editor: Abdul Aziz