Jakarta, elaeis.co - Transformasi digital di sektor perkebunan kelapa sawit semakin nyata. Pada sesi HASI 2, pembahasan mengerucut pada bagaimana dukungan smartphone, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta konsep smart plantation menjadi kunci dalam mendorong intensifikasi produksi tanpa harus membuka lahan baru.
Pendekatan ini dinilai sebagai jawaban atas tekanan global, keterbatasan tenaga kerja, hingga tuntutan efisiensi yang makin tinggi di industri sawit.
Division Head Agronomi PT Union Sampoerna Triputra Persada, Marlon Sitanggang, menegaskan bahwa strategi agronomi presisi kini menjadi fondasi utama dalam meningkatkan produktivitas kebun.
“Sekarang bukan lagi soal ekspansi, tapi optimalisasi. Setiap hektare harus dimaksimalkan dengan pendekatan yang lebih presisi dan berbasis data,” ujarnya dalam pemaparannya pada HASI 2026 di Birawa Assembly, Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (22/4).
Menurut Marlon, penggunaan smartphone di level lapangan telah mengubah cara kerja operasional kebun. Aktivitas yang sebelumnya dicatat manual kini mulai terdigitalisasi, mulai dari pencatatan panen, pemupukan, hingga monitoring kondisi tanaman.
Dengan dukungan aplikasi berbasis AI, data yang terkumpul tersebut tidak hanya menjadi arsip, tetapi diolah menjadi rekomendasi tindakan yang lebih akurat.
“Dulu kita banyak mengandalkan feeling dan pengalaman. Sekarang tetap penting, tapi harus diperkuat dengan data. Dari situ kita bisa ambil keputusan yang lebih tepat,” katanya.
Ia mencontohkan, dalam praktik pemupukan, aplikasi digital mampu membaca kebutuhan spesifik tanaman berdasarkan data historis, kondisi tanah, hingga analisis daun. Hasilnya, dosis pupuk menjadi lebih tepat sasaran.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya operasional.
“Over-application itu sering terjadi di metode konvensional. Dengan sistem berbasis data, kita bisa hindari itu,” jelasnya.
Tak hanya di aspek pemupukan, teknologi juga berperan besar dalam pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM). Menurut Marlon, fase awal pertumbuhan sawit sangat menentukan performa jangka panjang.
Melalui aplikasi monitoring berbasis smartphone, kondisi tanaman bisa dipantau secara real-time, termasuk pertumbuhan, serangan hama, hingga kebutuhan nutrisi.
“Kalau di fase awal ini kita kelola dengan baik, hasilnya akan terasa saat tanaman masuk fase menghasilkan,” ujarnya.
Sementara itu, pada tanaman menghasilkan (TM), digitalisasi membantu memastikan setiap proses berjalan sesuai standar, mulai dari pruning hingga harvesting.
“Panen itu ujungnya. Semua yang kita lakukan di hulu harus berujung pada panen yang optimal,” kata Marlon.
Di sisi lain, konsep smart plantation mulai diadopsi sebagai bagian dari transformasi industri. Sistem ini mengintegrasikan berbagai teknologi, mulai dari sensor lapangan, aplikasi digital, hingga analitik berbasis AI.
Chief Operation Officer (COO) Felda Plantation Management SDN. BHD, Mohd. Sahir Bin Yaacub, menekankan bahwa keberhasilan smart plantation sangat bergantung pada kualitas data dari lapangan.
“AI itu tidak bisa bekerja tanpa data. Dan data terbaik datang dari aktivitas di lapangan,” ujarnya.
Menurut Sahir, smartphone menjadi alat utama dalam proses pengumpulan data tersebut. Para pekerja lapangan kini tidak hanya menjalankan aktivitas operasional, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem data.
Mulai dari pencatatan produksi harian hingga kondisi tanaman, semua dikumpulkan secara sistematis dan terintegrasi.
“Kalau datanya akurat dan konsisten, AI bisa memberikan insight yang sangat membantu,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan sistem ini, perusahaan bisa mengetahui kebutuhan spesifik setiap tanaman, bukan lagi berdasarkan asumsi umum.
“Tidak semua pohon butuh perlakuan yang sama. Dengan teknologi, kita bisa perlakukan setiap tanaman secara lebih presisi,” katanya.
Lebih jauh, Sahir menjelaskan bahwa industri perkebunan saat ini sedang bergerak menuju era Smart Culture 5.0, di mana teknologi dan manusia berjalan beriringan.
Dalam fase ini, digitalisasi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya kerja.
“Ke depan, semua akan berbasis data. Keputusan diambil bukan hanya dari pengalaman, tapi juga dari analitik,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada adaptasi sumber daya manusia.
Menurutnya, banyak implementasi digital yang gagal karena tidak mendapat dukungan dari level lapangan.
“Kalau yang di bawah tidak menerima, semua akan sia-sia. Transformasi harus dimulai dari manusia,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perubahan karakter tenaga kerja, khususnya generasi muda yang kini lebih kritis dan berbasis logika.
Hal ini menuntut perusahaan untuk mengubah pendekatan manajemen agar lebih komunikatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Sekarang orang kerja tidak hanya disuruh, tapi perlu dijelaskan kenapa. Ini bagian dari perubahan budaya,” katanya.
Selain smartphone dan aplikasi AI, teknologi lain seperti drone juga mulai menjadi bagian dari ekosistem smart plantation.
Direktur PT Iweka Digital Solusi, Harry Indrawan Hasibuan, menjelaskan bahwa penggunaan drone dalam pemupukan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus akurasi distribusi pupuk.
“Dengan drone, kita bisa atur distribusi pupuk lebih merata dan sesuai kebutuhan area,” ujarnya.
Dalam praktiknya, penggunaan drone didukung oleh perencanaan berbasis data, termasuk pembagian area kerja dan penempatan landing pad.
Untuk lahan seluas 1.000 hektare, misalnya, dibutuhkan sekitar 10 titik landing pad, di mana masing-masing melayani area sekitar 100 hektare.
Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem navigasi presisi seperti RTK (Real-Time Kinematic), yang memungkinkan drone bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.
“Ini yang membuat pemupukan jadi lebih efisien dibanding cara manual,” jelas Harry.
Meski menawarkan banyak keunggulan, implementasi teknologi ini tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Standar operasional prosedur (SOP) yang ketat juga menjadi kunci agar teknologi dapat berjalan optimal di lapangan.
“Kalau SOP tidak dijalankan, risikonya besar, baik dari sisi alat maupun hasil kerja,” katanya.
Secara keseluruhan, integrasi smartphone, aplikasi AI, dan teknologi seperti drone menjadi fondasi dalam mendorong intensifikasi produksi sawit.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan meningkatkan produktivitas tanpa harus melakukan ekspansi lahan, sekaligus menjawab tuntutan efisiensi dan keberlanjutan.
Marlon menegaskan bahwa masa depan industri sawit akan sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengelola teknologi dan data.
“Potensi kita masih besar. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan lebih cerdas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan petani dalam mempercepat adopsi teknologi di sektor perkebunan.
Menurutnya, transformasi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan seluruh ekosistem industri.
“Semua harus bergerak bersama. Dari hulu sampai hilir,” katanya.
Dengan arah transformasi yang semakin jelas, industri kelapa sawit Indonesia kini memasuki babak baru—di mana teknologi, data, dan manusia menjadi kunci utama dalam menjaga daya saing di tengah dinamika global.
Smartphone dan AI Jadi Senjata Baru Dongkrak Produksi Tanpa Tambah Lahan
Diskusi pembaca untuk berita ini