Selain mengajar, Lenie juga sedang menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Borneo Tarakan. Ia tengah menyiapkan ujian kinerja dan praktik mengajar di kelas untuk meraih sertifikat pendidik pada 2026. Menurutnya, sertifikasi ini akan menjadi bukti kompetensi sekaligus motivasi tambahan untuk terus mengabdi.
Lenie juga menerapkan metode pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Ia mengajak siswa memanfaatkan bahan-bahan di sekitar kebun sawit untuk membuat karya kreatif, sehingga anak-anak belajar sambil mengenal alam.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kreativitas siswa, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan.
Dukungan masyarakat dan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan Lenie. Mereka aktif berpartisipasi dalam forum komite sekolah dan mendukung berbagai program literasi yang dijalankan guru honorer ini. Kehadiran mereka memperkuat langkah Lenie untuk memastikan pendidikan tetap berjalan meski berada di lokasi yang menantang.
Cerita Lenie menjadi inspirasi tentang dedikasi guru honorer yang bekerja tanpa lelah, menembus medan sulit demi masa depan anak-anak desa. Di balik sawit yang rimbun, semangatnya menunjukkan bahwa pendidikan bisa tetap berjalan jika ada komitmen, kerja keras, dan dukungan komunitas.
Lenie membuktikan bahwa medan berat bukan alasan untuk mundur. Setiap langkahnya di antara barisan sawit adalah bukti nyata pengabdian seorang pendidik yang menempatkan murid sebagai prioritas, menginspirasi generasi muda untuk meraih mimpi meski berasal dari desa terpencil.
Walau di Tengah Kebun Sawit, Guru Honorer Ini Tetap Pantang Mundur Mendidik Anak Desa
Diskusi pembaca untuk berita ini