"Lokasi kebun sawitnya ada di Bawen, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng)," ungkap Lila lebih lanjut.
Produk ini juga ditambah fungsinya dengan memungkinkan untuk ditarik dengan sepeda motor, dan memiliki aki dengan kekuatan 1 jam dan bisa menempuh jarak 39 kilometer (km).
“ini semua ditujukan agar para petani sawit bisa dengan mudah menarik angkong ini dari rumahnya ke kebun,” katanya.
Angkong listrik tersebut, ungkap Lila, sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit yang bertanah keras dan datar, bukan yang bergelombang atau berbukit-bukit.
Lila mengakui timnya masih memerlukan sejumlah tahapan lagi, termasuk melalui proses standarisasi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), khususnya yang terkait baterai, untuk kemudian diproduksi secara massal.
Angkong tersebut, tuturnya lebih lanjut, memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 60 persen, dan material yang masih impor adalah cell aki dan motornya.
Spesifikasi angkong tersebut adalah motor DC Brushed 24V, 500 W, kopling elektronik, kontroler motor 24V, maju dan mundur, baterai Li 24V, 22 Ah.
Kemudian menggunakan kerangka besi baja galvanis, rem hidrolik cakram ganda, roda semi trail R14, bak plat tertutup dan perforasi, gardan untuk 2 roda depan; daya jelajah 39 Km untuk sekali charge.
Ada Angkong Sawit dari ITS Surabaya untuk Petani Sawit di PERISAI 2024
Diskusi pembaca untuk berita ini