Bengkulu, elaeis.co - Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKS) Bengkulu Edy Mashuri punya penjelasan ilmiah terkait tudingan Uni Eropa (UE) yang menyebut tanaman sawit sebagai perusak lingkungan.

Menurut Edy, pada dasarnya kelapa sawit tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi negara dan masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.

Sebelumnya, UE mengeluarkan peraturan tentang Deforestasi (EUDR) yang melarang impor produk kelapa sawit, dengan alasan adanya dugaan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

"Kelapa sawit idak hanya memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi negara dan masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan tidak merusak lingkungan," tegas Edy, kemarin.

Menurut Edy, kelapa sawit memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dalam proses fotosintesisnya, kelapa sawit menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara, berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan membantu memperlambat perubahan iklim.

"Uni Eropa menuduh kelapa sawit itu menambah emisi gas rumah kaca dan mempercepat perubahan iklim, padahal tanaman ini mampu menyerap CO2 dari udara, dan berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca serta membantu memperlambat perubahan iklim," jelas Edy.

Oleh karena itu, Edy memastikan tuduhan Uni Eropa terhadap tanaman sawit salah besar.

"Kami mengajak Uni Eropa untuk memahami dengan baik fakta-fakta sebelum membuat keputusan yang dapat merugikan sektor perkebunan kelapa sawit," imbuh Edy.

APKS Bengkulu juga menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam budidaya kelapa sawit. Edy mengatakan para petani kelapa sawit telah mengadopsi praktik-praktik ramah lingkungan, seperti pengelolaan limbah yang efisien dan pengurangan penggunaan pestisida berbahaya.

Hal ini bertujuan untuk menjaga ekosistem sekitar perkebunan kelapa sawit dan meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan. "Banyak petani sudah paham praktik-praktik ramah lingkungan," ujarnya.