Jakarta, elaeis.co – Pola konsumsi gula rumah tangga di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, di tengah naiknya produksi gula nasional. 

Namun, ketergantungan pada impor gula masih menjadi “bayangan panjang” yang sulit dihapus dari sistem pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi gula pasir rumah tangga turun dari sekitar 1,8 juta ton pada 2021 menjadi 1,46 juta ton pada 2025. Penurunan ini terjadi seiring perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai mengurangi asupan gula.

Di saat yang sama, produksi gula kristal putih justru meningkat dari 2,38 juta ton menjadi 2,67 juta ton dalam periode yang sama. Kenaikan produksi ini ditopang perluasan lahan tebu yang meningkat dari sekitar 449.010 hektare menjadi 563.000 hektare.

Meski tren impor menunjukkan penurunan, angka ketergantungan Indonesia terhadap gula luar negeri masih tergolong tinggi. BPS mencatat impor gula turun dari 5,48 juta ton pada 2021 menjadi 3,93 juta ton pada 2025, setelah sempat mencapai puncak 6,01 juta ton pada 2022.

Sebagian besar impor tersebut merupakan gula mentah yang digunakan sebagai bahan baku industri gula rafinasi, terutama untuk sektor makanan-minuman, farmasi, hingga hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, menjelaskan total konsumsi gula nasional pada 2025 mencapai 6,33 juta ton, yang terdiri dari berbagai sektor pengguna.

Industri pengolahan menjadi konsumen terbesar dengan 3,87 juta ton, disusul rumah tangga 1,46 juta ton, sektor horeka 970.965 ton, jasa-jasa 28.778 ton, dan SPPG program makan bergizi gratis sebanyak 579 ton.

“Secara umum, konsumsi gula dan minuman bergula cenderung turun. Namun, ketergantungan terhadap impor masih menjadi tantangan,” ujarnya dalam rapat di DPR, Senayan.

Penurunan konsumsi juga terlihat pada data per kapita. BPS mencatat konsumsi gula nasional turun dari 6,85 kg per kapita per tahun pada 2017 menjadi 5,15 kg pada 2025.

Sementara itu, konsumsi minuman manis seperti teh kemasan dan minuman bersoda juga merosot tajam, dari 66,97 liter menjadi 33,61 liter per kapita per tahun pada periode yang sama.

BPS menilai perubahan ini dipengaruhi pergeseran gaya hidup masyarakat ke pola konsumsi yang lebih sehat, serta perubahan pola belanja yang kini lebih banyak mengandalkan makanan dan minuman jadi.

Meski produksi meningkat dan konsumsi rumah tangga menurun, struktur pasar gula nasional dinilai belum sepenuhnya seimbang. Kebutuhan industri yang besar membuat impor tetap menjadi “katup penyeimbang” pasokan.

Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi target swasembada gula nasional, yang masih bergantung pada sinkronisasi antara produksi, distribusi, dan kebijakan tata niaga yang konsisten.