Jakarta, elaeis.co – Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, menegaskan bahwa industri kelapa sawit masih menjadi tulang punggung perekonomian di sejumlah daerah rawan bencana seperti Aceh dan Sumatera Utara. 

Menurutnya, sektor sawit tidak dapat ditinggalkan begitu saja, mengingat perannya yang besar terhadap pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Kacuk menyampaikan bahwa tantangan utama bukan pada keberadaan sawit, melainkan pada tata kelola sektor pertanian dan perkebunan yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan lahan.

“Perekonomian daerah terdampak bencana sangat bergantung pada sawit. Yang perlu dibenahi adalah bagaimana pengelolaannya, khususnya kesesuaian lahan dengan komoditas yang ditanam,” ujar Kacuk, Rabu (11/2). 

Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip ekofisiologis dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dengan memperhatikan faktor iklim, tanah, dan ekosistem setempat, Kacuk meyakini industri sawit nasional dapat terus tumbuh tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Jika aspek ekofisiologis dijalankan dengan benar, maka perkebunan sawit di Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan dan sejalan dengan keseimbangan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kacuk mengingatkan bahwa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara telah berkembang lebih dari satu abad. Selama periode tersebut, sektor sawit terbukti mampu menopang ekonomi daerah sekaligus menjaga stabilitas sosial masyarakat di sekitarnya.

“Fakta historis menunjukkan bahwa sawit sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumatera Utara, dan lingkungan di sekitar perkebunan tetap terjaga,” katanya.

Namun demikian, Kacuk mengakui bahwa perubahan iklim global kini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian dan perkebunan, termasuk industri sawit. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan yang lebih adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan.

“Tujuan kita adalah tetap memperoleh manfaat ekonomi dari sawit, tetapi dengan risiko ekologis yang bisa ditekan seminimal mungkin,” pungkas Kacuk.