Medan, Elaeis.co - Harga harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang saban pekan ditetapkan oleh tim perumus harga yang ditunjuk Dinas Perkebunan Sumatera Utara (Sumut) seolah tak ada artinya bagi petani swadaya di Kabupaten Tapanuli Tengah (tapteng). Di sana, pengepul yang mengatur harga TBS petani swadaya.
M Hayat, salah seorang petani swadaya, mengatakan, kondisi seperti itu sudah berlangsung bertahun-tahun. “Yang tahu persis harga TBS adalah pengepul, kami pasrah saja mau dibeli berapa. Pekan ini buah kami dihargai Rp 1.200/kg, bulan lalu sekitar Rp 1.400 sampai Rp 1.500/kg,” katanya kepada Elaeis.co melalui sambungan telefon.
“Kalau kami tanya kenapa turun, dibilang pengepul itu harga CPO juga turun. Ya sudah, gitu saja. Mau macam mana lagi dibuat,” tambahnya.
Menurutnya, petani swadaya di Kecamatan Manduamas, Kecamatan Sorkam, dan lainnya, tak punya pilihan lain kecuali menjual TBS ke pengepul. “Loh, mau jual ke mana lagi? Mana ada ram di Tapteng ini,” sebutnya.
Para petani juga tak punya akses ke tiga PKS yang ada di Tapteng. “Jangankan kami, pengepul pun tak punya akses ke PKS. Pengepul menjual buah kami ke Singkil, Provinsi Aceh,” ungkapnya.
Menurutnya, hanya ada dua atau tiga pengepul yang memegang delivery order (DO) atau izin khusus untuk memasukan TBS ke PKS yang ada di Tapteng. “Tak tahu kenapa bisa begitu. Yang pasti itu sudah berlangsung belasan tahun. Dari dulu udah kayak gini, macam mana mau kita bilang,” tukasnya.
“Kami sangat berharap pemerintah turun tangan, kami ingin dapat akses ke PKS agar harga jual TBS lebih baik,” tambahnya.
Harga TBS di Daerah ini Tergantung Maunya Pengepul
Diskusi pembaca untuk berita ini