Bangkinang, elaeis.co – Distribusi kelapa sawit di 4 desa di Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Riau, selalu terganggu setiap memasuki musim penghujan. Pasalnya, air sungai di wilayah tersebut akan meluap hingga menggenangi jalan yang menjadi akses pengangkutan hasil kebun petani sawit.
"Ini terjadi tiap musim hujan. Malah kadang-kadang di desa tidak hujan, tapi di bagian hulu yakni wilayah Bukit Barisan perbatasan Sumbar hujan, maka banjir sudah pasti terjadi di jalan angkutan itu,” terang Aaron, petani kelapa sawit di Desa Salo, kepada elaeis.co, Sabtu (18/1).
“Terlebih jika pintu air bendungan PLTA Koto Panjang di Rantau Berangin dibuka, jalanan pasti tergenang," sambungnya.
Biasanya, lanjut Aaron, banjir kiriman itu akan surut setelah 8 jam. Setelah itu kendaraan angkutan kelapa sawit baru bisa lewat. “Artinya buah petani kelapa sawit terlambat sampai 8 jam lebih untuk sampai ke pabrik kelapa sawit atau PKS yang ada di wilayah Siabu,” jelasnya.
Kendati begitu, sampai saat ini ratusan hektar kebun kelapa sawit di wilayah itu belum terdampak. Banjir hanya mengganggu pergerakan kendaraan angkutan TBS saja. "Mayoritas pengangkutan TBS sawit dari kebun milik petani swadaya yang terdampak. Sebagian ada juga dari kebun inti korporasi," bebernya.
Untuk harga juga relatif tidak terganggu meski sejak awal tahun harga turun sampai Rp 200/kg. Saat ini harga di PKS dibeli Rp 3.030/kg. “Kalau untuk petani di bawah Rp 2.900/kg,” tutupnya.
Hujan, Jalur Angkutan Sawit di 4 Desa di Kampar Terganggu Banjir Musiman
Diskusi pembaca untuk berita ini