Mengapa Harga Kelapa Tak Stabil?
Menurut Kuntoro, harga kelapa di tingkat produsen menunjukkan tren kenaikan dalam lima tahun terakhir, meski tidak selalu stabil.
Pada 2019, harga rata-rata kelapa berada di kisaran Rp2.690 per butir, lalu meningkat menjadi Rp3.291 pada 2023. Tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp3.300.
"Kenaikan ini mencerminkan adanya peningkatan nilai jual, tetapi juga menunjukkan bahwa pasar kelapa masih sangat rentan terhadap dinamika pasokan dan permintaan," terangnya.
Kuntoro Boga menjelaskan, proyeksi harga ke depan mengarah pada tiga skenario. Pertama, jika ekspor terus meningkat tanpa pertumbuhan produksi, harga bisa naik 5–10 persen per tahun, namun ini berisiko mengurangi pasokan dalam negeri. Kedua, skenario ideal adalah stabilisasi produksi disertai hilirisasi, yang bisa mendorong kenaikan harga moderat sebesar 1–3 persen per tahun. Ketiga, pembatasan ekspor tanpa strategi perlindungan harga dapat membuat harga stagnan bahkan turun, sehingga mengancam pendapatan petani.
“Faktor ekologis turut memengaruhi fluktuasi harga. Perubahan iklim menyebabkan musim panen tidak menentu dan hasil produksi menurun. Di Sulawesi Utara, musim kemarau panjang menyebabkan penurunan panen hingga 20 persen. Anomali cuaca seperti banjir dan hujan ekstrem juga menurunkan kualitas buah kelapa, yang berdampak langsung pada harga jual di tingkat produsen”, jelas kuntoro.
Kapus BRMP perkebunan ini juga menjelaskan, tantangan geopolitik dan perdagangan internasional juga menjadi faktor penting.
Ketergantungan pada pasar ekspor membuat harga kelapa sangat sensitif terhadap kebijakan dagang negara mitra, seperti tarif impor dan hambatan teknis. Sementara itu, infrastruktur logistik dalam negeri yang belum merata menyebabkan disparitas harga antarwilayah, memperbesar ketimpangan dan ketidakstabilan pasar kelapa nasional.
In-Depth Interview BPDP Potensi dan Proyeksi Harga Kelapa Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini