Bengkulu, elaeis.co  - Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bengkulu, Saidirman, mengatakan gerakan berwisata petani sawit menjadi perhatian pemerintah.

"Sebab dalam kurun waktu dua tahun terakhir, pariwisata Bengkulu diterpa pandemi Covid-19 hingga pariwisata menjadi sangat berdampak," kata Saidirman kepada elaeis.co, Rabu (25/4) kemarin.

Dalam momen Idul Fitri tahun ini, menurutnya, hampir tiga ribu petani sawit yang berasal dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma dan Kaur telah memadati seluruh objek wisata yang ada di daerah itu.

"Petani sawit di Provinsi Bengkulu menjadi faktor utama penggerak perekonomian daerah pada sektor pariwisata di momentum libur lebaran IdulFitri 1444 Hijriah ini," tambahnya.

Saidirman menilai, petani sawit sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian daerah, khususnya pada sektor pariwisata. 

"Mereka memadati objek-objek wisata yang ada di Kota Bengkulu, Lebong, Rejang Lebong dan Kepahiang yang notabene bukan penghasil sawit," ia menambahkan.

Tujuan mereka, kata Saidirman, adalah objek wisata pantai di Pantai Panjang Kota Bengkulu, Air Terjun Curug Embun di Kepahiang, Kebun Teh Kepahiang, Pemandian Air Panas Suban Rejang Lebong, dan Danau Mas Lebong.

"Mereka berwisata untuk melepas penat dan berkumpul bersama keluarga untuk mencari suasana baru," kata Saidirman.

Tak hanya dari dalam provinsi, petani sawit dari Kabupaten Lubuk Linggau dan Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan juga datang ke Bengkulu sebagai tujuan wisata. 

Saidirman mengungkap penggerak petani sawit untuk berwisata adalah momentum hari raya keagamaan dan trend harga jual komoditas TBS sawit.

Ketika dua ini tidak ada atau tidak melengkapi, maka akan jarang petani sawit untuk berlibur bersama keluarga. 

"Kalau pun harganya baik, jika bukan momen hari besar, mereka tidak akan pergi berlibur," ujarnya.