Jakarta, elaeis.co – Ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Beijing, kali ini dengan target yang cukup tak terduga, minyak goreng.
Trump mengancam akan melarang impor minyak goreng dari Tiongkok sebagai bentuk pembalasan karena Negeri Tirai Bambu menolak membeli kedelai dari petani Amerika.
Ancaman itu disampaikan Trump lewat unggahan di platform Truth Social. Ia menuding Tiongkok sengaja melakukan “serangan ekonomi” dengan menghentikan pembelian kedelai dari AS sejak Mei 2025.
Padahal, selama bertahun-tahun, Beijing merupakan pembeli utama kedelai Amerika dengan nilai transaksi mencapai USD 12,8 miliar atau sekitar Rp212 triliun pada 2024.
“Tiongkok dengan sengaja menyakiti petani kita. Mereka menolak membeli kedelai Amerika hanya untuk menekan ekonomi kita,” tulis Trump dengan nada tinggi.
Langkah keras ini muncul setelah data bea cukai Tiongkok menunjukkan peningkatan tajam ekspor mereka pada September 2025, tumbuh 8,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, di sisi lain, ekspor ke Amerika justru anjlok 27 persen, sedangkan impor dari AS turun 16 persen. Surplus perdagangan Tiongkok terhadap AS pun menyusut menjadi USD 208,6 miliar atau sekitar Rp3.460 triliun.
Trump menganggap penurunan ini sebagai sinyal bahwa hubungan dagang antara kedua negara semakin tidak seimbang.
Ia menuding Beijing menikmati keuntungan dari ekspor besar-besaran, tapi menolak membuka pasar bagi produk pertanian AS. Ancaman embargo minyak goreng pun dianggapnya sebagai langkah “adil” agar Tiongkok merasakan tekanan balik.
Namun, analis perdagangan menilai langkah ini bisa memicu gelombang baru perang dagang yang pernah mengguncang pasar global pada 2018–2019.
Amerika memang bukan tujuan utama ekspor minyak goreng Tiongkok, tetapi kebijakan semacam ini berpotensi menimbulkan efek domino terhadap komoditas lainnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Bea Cukai Tiongkok, Wang Jun, menegaskan bahwa negaranya akan terus memperkuat kerja sama dengan mitra non-AS untuk menjaga stabilitas perdagangan.
"Tekanan global masih tinggi, tapi kami fokus pada keseimbangan jangka panjang,” katanya.
Kedelai AS Dicuekin, Trump Ancam Minyak Goreng Tiongkok Dilarang Masuk Amerika
Diskusi pembaca untuk berita ini