Jakarta, elaeis.co – Banyak petani mengeluhkan penggunaan pupuk yang terus meningkat, namun hasil panen tetap tidak menunjukkan kenaikan signifikan. Fenomena ini ternyata tidak selalu disebabkan oleh kurangnya unsur hara, melainkan berkaitan erat dengan kondisi biologi tanah yang mulai menurun.

Menurut kajian yang disampaikan Robert K. Herrington, Founder & CEO SecondHand-Carbon, masalah utama bukan hanya soal jumlah pupuk, tetapi juga tentang kesehatan mikroorganisme di dalam tanah yang berperan penting dalam proses penyerapan nutrisi tanaman.

Herrington menjelaskan bahwa pupuk sebenarnya tidak langsung “memberi makan” tanaman. Sebaliknya, mikroorganisme seperti bakteri dan jamur memiliki peran utama dalam mengolah unsur hara agar bisa diserap akar tanaman secara efektif. Tanpa aktivitas mikroba yang sehat, nutrisi di dalam tanah memang ada, tetapi tidak sepenuhnya tersedia bagi tanaman.

Ia menyebut mikroba tanah bertugas memecah bahan organik, melepaskan nitrogen, hingga membantu mobilisasi fosfor di sekitar akar tanaman. Proses ini menjadi bagian penting dalam siklus nutrisi yang menentukan produktivitas tanaman di lahan pertanian.

Namun, ketika aktivitas mikroorganisme menurun, efisiensi pupuk juga ikut turun. Kondisi ini sering membuat petani merasa harus menambah dosis pupuk, padahal masalah utamanya bukan pada jumlah pupuk, melainkan pada rusaknya keseimbangan biologis tanah.

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penurunan kandungan karbon aktif atau karbon mudah terurai di dalam tanah. Karbon ini menjadi sumber energi utama bagi mikroba untuk tetap aktif dan menjalankan fungsinya dalam ekosistem tanah.

Saat karbon aktif berkurang, mikroorganisme kehilangan sumber energi, sehingga aktivitasnya melemah. Akibatnya, proses siklus nutrisi melambat bahkan bisa berhenti, membuat tanaman tidak merespons pupuk secara optimal meskipun dosis yang diberikan sudah tinggi.

Herrington menegaskan bahwa kondisi ini juga membuat sistem pertanian semakin bergantung pada pupuk kimia dalam jumlah besar. Padahal, tanah yang sehat tidak hanya bergantung pada kandungan nutrisi, tetapi juga pada sistem biologis yang aktif dan seimbang.

Menurutnya, pendekatan pertanian modern seharusnya tidak hanya fokus pada penambahan pupuk, tetapi juga pada pemulihan kesehatan tanah melalui penguatan aktivitas mikroba. Dengan demikian, efisiensi pupuk dapat meningkat dan produktivitas tanaman bisa lebih optimal tanpa harus terus menambah input kimia.

Fenomena ini juga menjadi perhatian penting di sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit, di mana efisiensi pupuk sangat berpengaruh terhadap produktivitas jangka panjang. 

Para ahli menilai, pemahaman tentang biologi tanah perlu lebih diperhatikan agar hasil pertanian tidak stagnan meskipun penggunaan pupuk terus meningkat.