Apa yang terjadi jika keberadaan manusia di muka bumi digantikan oleh sebuah Komputer atau robot jelmaan dari Artificial Intelligence (Ai)?
Mungkinkah semua keterampilan yang dimiliki oleh manusia bisa dialogaritmakan ke sebuah AI? Termasuk intuisi dan perasaan yang dimiliki manusia dan sisi-sisi humanis lainnya?
Akankah eksistensi manusia sampai pada periode kritis (unskilled/skilled labour) terhadap dominasi otomasi teknologi dan AI?
Semua pertanyaan ini dibedah dalam syarahan Shadu Perdana bertajuk Paradoks Utopia, Rezim Digitalisme: Obsesi Ilmu dan Kebenaran Singularitas di ruang ruang pertemuan Norma Coffee jumat siang kemarin.
Diskusi yang berakhir menjelang maghrib ini menghadirkan Muhammad Natsir Tahar, seorang Winterprenuer, Digital Business Consultant dan IT Support yang bermukim di Batam.
Sebagai inisiasi Syarahan ini Prof. Yusmar Yusuf seorang fenomenolog dan Budayawan Riau yang berkolaborasi dengan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNRI Dr. Meyzi Herianto.
Menariknya diskusi ini diikuti oleh beberapa dosen muda dan alumni yang memiliki pikiran progresif dan alternatif yang berpikir kritis.
Humanisme Vs Dehumanisme dalam prespektif Happy Ending (Utopia) yang didedahkan M Nasir Tahar berangkat dari fenomena perkembangan platform digital yang begitu pesat.
Dimulai dari gejala dehumanisme ultra-modern (1997) yang ditandai dengan kekalahan juara Catur Dunia Gerry Kosparov melawan Deep Blue, sebuah computer IBM yang mampu mengkalkulasikan 200 juta langkah per detik.
Pada 10 Februari 1996, Garry Kasparov menyerah kalah di game pertama dari enam pertandingan melawan Deep Blue. Inilah fakta awal bahwa mesin komputer mampu mengalahkan keterampilan manusia.
Peristiwa ini terus berlanjut pada fase akhir dari Revolusi Industri 3.0 dengan sistem otomasi dan kontrol logika yang dapat diprogram.
Lalu revolusi industry 4.0. Analisis dan big data, Autonomous Robot, Virtual Reality, IoT, Augmented Reality, Additive Manufacturing (3D), dan Cyber Security bukan barang baru lagi.
Kemudian diikuti dengan Singularitas teknologi yang ditandai dengan kemunculan Robot, penyatuan Biotech dan Infotech, Brain Chip dan Cyborg. Lalu kini kita sedang menuju masyarakat 5.0.
Kembali ke pertanyaan awal, mungkinkankah robot jelmaan AI itu mampu menggantikan keberadaan manusia atau setidaknya merebut beberapa profesi yang biasa dilakukan oleh manusia.
Baca juga: "Saya Terkesan. Ada Mutiara di Kampus itu"
Bahkan untuk profesi yang memerlukan intuisi dan perasaan, seperti hakim yang memutuskan sebuah keputusan tidak hanya dari data dan fakta di persidangan, namun juga menggunakan hati Nurani.
Mungkinkah diselipkan sisi humanisme di AI di tengah fenomena mimpi manusia yang bisa disimpan dalam chip atau penanaman brain chip. Lalu diikuti dengan penciptaan manusia Cyborg atau penggabungan biotech dan infotech dalam satu tubuh.
Disrupsi teknologi, manusia digantikan oleh AI hampir dalam semua aktifitas global. Sebuah distopia; kecil kemungkinan ekstistensi manusia dapat bertahan bila terus dihadapkan pada singularitas dengan kecanggihan mesin pembelajar (deep learning) yang progresif.
Harus ditemukan jalan tengah agar humanisme dapat dipertahankan (manusia Vs Robot AI).
Lalu di akhir diskusi M Natsir menawarkan solusi atas problem kemanusiaan yang harus diselesaikan secara ekstra ordinary melalui kesepakatan global, demi penyelamatan ras manusia antara lain;
(1) New era: Berakhirnya sistem pemerintahan ego (monarkhi), dictator, fasis, komunisme, sosialisme, dan demokrasi), serta tamatnya kapitalisme global yang bersifat dektruktif dan ekstraktif.
(2) AI Governance System: Sistem pemerintahan tunggal berbasis AI yang berorientasi hanya kepada pemenuhan kebutuhan manusia secara equal opportunity.
(3) The Great Reset: Work economic Forum melalui momentum pandemic global berperan dalam riset berskala besar dengan kata kunci eco-friendly technologi yang berpusat pada kemanusiaan.
Untuk menjawab semua pertanyaan ini M Natsir menyebutkan setidaknya kita berharap dua hal yaitu; (1). Friendly Artificial Intelligence yaitu AI yang terkendali akan memiliki efek positif (jinak) pada kemanusiaan atau setidaknya selaras dengan kepentingan manusia atau berkontribusi untuk mendorong peningkatan spesies manusia.
(2). Human oriented yakni Teknologi AI harus tetap dikendalikan demi memenuhi kebutuhan manusia dalam segala dimensi, bukan sebaliknya.
Murparsaulian
Penyair, Dosen UMRI. Alumnus Universidad Autonomous de Barcelona, Spanyol
Mungkinkah Manusia Digantikan Robot
Diskusi pembaca untuk berita ini