Kalbar, elaeis.co - Pertumbuhan pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak memiliki kebun justru dinilai menjadi ancaman bagi para petani Perkebunan Inti Rakyat (PIR), terutama di wilayah Kalbar. Sebab akan mengakibatkan persaingan harga yang semakin sengit.

"Kalau untuk petani swadaya memang bagus semakin banyak tumbuh PKS tanpa kebun tadi. Sebab persaingan harga semakin tinggi. Sementara harga petani swadaya tidak berpatokan kepada penetapan Dinas Perkebunan," ujar Ketua Aspekpir Kalbar, YS Marjitan, Sabtu (25/2).

Kepada elaeis.co Marjitan merinci, semakin banyak PKS tanpa kebun  maka harga akan semakin bersaing demi memenuhi kebutuhan produksi PKS itu. Petani pasti akan menjual hasil kebunnya kepada PKS yang berani membeli dengan harga tinggi tadi.

Kondisi ini tentu ikut menggoyahkan petani PIR yang harga TBS kelapa sawitnya ditentukan lewat penetapan. Sementara harga PKS tanpa kebun terkadang lebih tinggi dari harga penetapan yang ada.

"Jadi petani memilih untuk mengalihkan TBS-nya ke PKS tanpa kebun ketimbang pada mitranya. Hal ini tentu membuat cacat kemitraan yang sudah terjalin," paparnya.

Akhirnya menimbulkan kecemburuan di tubuh PKS mitra petani, di mana jalan PKS itu digunakan oleh petani untuk menjual TBS ke PKS lain. Akhirnya perawatan infrastruktur dihilangkan. Akibatnya menyulitkan petani itu sendiri.

"Kalau untuk kesejahteraan petani PIR saat ini cukup.  Apalagi PKS di Kalbar ada sekitar 60. Kekhawatiran lagi jika bergantung pada PKS tanpa kebun, karena itu justru salah. Sebab PKS tanpa kebun bisa saja tutup tiba-tiba. Nah, jika kemitraan sudah tida terjalin maka petani sendiri yang akan merasakan kesulitan," paparnya.

Untuk itu ia mengimbau kepada petani PIR agar konsisten menjaga hubungan kemitraan sebaik mungkin. "Sebab hingga saat ini terbukti memberikan manfaat positif," imbuhnya.