Bengkulu, elaeis.co - Para petani kelapa sawit di Bengkulu merasa kesulitan dalam memperoleh pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis biosolar subsidi. Hal tersebut dapat dilihat dari antrean panjang kendaraan di sejumlah Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bengkulu. Bahkan beberapa dari mereka harus rela antre selama 2 hari hanya untuk mendapatkan biosolar yang sangat dibutuhkan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Ir Mulyani, mengungkapkan antrean panjang yang terjadi disebabkan kuota BBM jenis biosolar untuk wilayah Bengkulu yang telah melebihi batas penggunaan yang telah ditetapkan.

Pada bulan Juni tahun ini, penggunaan BBM jenis biosolar sudah melebihi kuota sebesar 2 persen. Akibatnya, langkah yang diambil adalah mengurangi distribusi biosolar dari biasanya 32.000 liter menjadi 16.000 liter ke SPBU.

"Konsumsi biosolar di Bengkulu sudah melebihi kuota pada bulan lalu, sehingga membuat Pertamina mengurangi distribusi agar pasokan biosolar hingga akhir tahun cukup," kata Mulyani, Kamis (10/8) kemarin.

Meski begitu, Mulyani mengaku pihaknya akan mengajukan permohonan penambahan kuota pasokan solar kepada Pertamina. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi antrean yang panjang di SPBU.

"Kami akan ajukan penambahan kuota biosolar di Bengkulu, Itu nanti kami bahas dengan Pertamina," ujar Mulyani.

Mulyani menjelaskan bahwa saat ini sedang dilakukan kajian terhadap kebutuhan masyarakat akan pasokan solar. Namun, berdasarkan prediksi, usulan yang akan diajukan adalah sekitar 10 persen dari alokasi kuota pasokan solar tahun 2023.

Pada tahun ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu mendapatkan alokasi kuota pasokan solar sebanyak 105.696 kilo liter, dan usulan yang akan diajukan kepada Pertamina sekitar 10 ribu kilo liter.

"Dari kuota yang ada saat ini, kami akan mengusulkan sekitar 10 persen, itu diharapkan dapat membantu mengurangi antrean di SPBU dan memenuhi kebutuhan biosolar masyarakat," ujar Mulyani.

Dalam rangka untuk mengatasi masalah kekurangan pasokan BBM biosolar subsidi, Pemprov Bengkulu berkolaborasi dengan Pertamina. Langkah-langkah seperti penambahan kuota pasokan dan pengendalian distribusi sedang dipertimbangkan untuk memastikan pasokan BBM biosolar yang memadai bagi masyarakat.

"Kami akan berkolaborasi dengan Pertamina juga agar pasokan biosolar bisa terus tersedia," tuturnya.

Kekurangan pasokan BBM biosolar subsidi di Bengkulu adalah contoh nyata dari tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan pasokan bahan bakar. Perlu kerjasama yang kuat antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat untuk memastikan ketersediaan dan distribusi yang adil serta efisien bagi kepentingan semua pihak.

"Masalah ini rutin terjadi di Bengkulu, kami berharap masalah pasokan ini seharusnya tidak terjadi lagi," tutupnya.

Sementara itu, Sales Area Manager Bengkulu, Mochammad Farid Akbar, mengatakan pihaknya akan mengawasi kendaraan yang melakukan pengisian biosolar subsidi. Jika nanti ada pemilik kendaraan angkutan batu bara maupun sawit yang kedapatan mengisi biosolar subsidi, maka QR Codenya akan dilakukan pemblokiran.

"Itu adalah salah satu upaya kami agar masalah antrean panjang tidak kembali terjadi, karena selama ini banyak angkutan batu bara dan sawit yang ikut antri beli biosolar subsidi," tutupnya.