Bengkalis, elaeis.co - Program pengembangan padi gogo yah diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bengkalis, untuk sementara waktu dihentikan. Ini akibat  masih berlangsungnya musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah. 

Kondisi cuaca yang belum mendukung dinilai berisiko terhadap keberhasilan penanaman dan produktivitas padi kering tersebut. Meski demikian, tanaman padi gogo yang telah ditanam sebelumnya telah berhasil dipanen sebelum dampak kemarau semakin parah. 

"Sebelum musim kemarau kemarin datang, kita sudah lakukan pemanenan padi Gogo yang sebelumnya telah kita Budi dayakan," ujar Ketua Samade Bengkalis, Sukanto saat berbincang dengan elaeis.co, Selasa (8/9).

Kendati begitu, hasil yang didapatkan sebelumnya dinilai kurang optimal. Setiap hektarnya, produksi padi Gogo itu hanya sebanyak 2 ton. Padahal potensinya dapat mencapai 5 ton padi kering. 

Kata Sukanto, rendahnya hasil produksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama keterbatasan ketersediaan air selama masa pertumbuhan tanaman. Selain itu, minimnya penggunaan pupuk juga menjadi kendala yang berdampak pada pertumbuhan dan hasil panen.

"Saat ini kita tengah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut sekaligus menyiapkan langkah lanjutan untuk musim tanam berikutnya," terang pria yang juga merupakan petugas penyuluh pertanian tersebut.

Disamping itu, pihaknya juga tengah menyiapkan pengajuan usulan benih untuk musim tanam usai badai El Nino saat ini selesai. Ke depan, perbaikan manajemen budidaya, pemenuhan kebutuhan pupuk, serta dukungan sarana pengairan menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas padi gogo. 

"Kita berharap program ketahanan pangan dari pemerintah dapat berjalan maksimal sehingga menghasilkan penghasilan tambahan bagi petani kelapa sawit, maupun masyarakat luas," tandanya.