Selain itu, Sekjen CPOPC menekankan peran sains dan inovasi dalam mengubah wajah industri sawit. Contohnya, sistem ketertelusuran (traceability systems) yang semakin canggih dan pengembangan biofuel seperti B40 serta sustainable aviation fuel (SAF). 

Inovasi-inovasi ini membuktikan bahwa sawit dapat menjadi pilar ekonomi hijau global, sekaligus sumber energi terbarukan yang strategis.

Izzana juga menekankan bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium atau ruang konferensi. Pengetahuan yang diperoleh harus mampu memengaruhi kebijakan nyata, yang inklusif dan tidak menyingkirkan petani kecil dari rantai pasok global. 

Untuk itu, CPOPC terus mendorong pengakuan internasional terhadap standar keberlanjutan nasional seperti ISPO dan MSPO.

“IPORICE can play a vital role in this mission by fostering collaboration between researchers and policymakers, so decisions are guided by data, not politics,” tegasnya.

Di bagian akhir sambutannya, Izzana menyerukan kolaborasi global antara produsen, konsumen, peneliti, dan inovator untuk memastikan masa depan kelapa sawit yang adil, hijau, dan berkelanjutan.

To truly unlock palm oil’s potential for people, planet, and prosperity, we must work together: producers, consumers, researchers, and innovators,” kata Izzana.

Ia menegaskan komitmen CPOPC untuk terus memberdayakan petani kecil, mendorong produksi berkelanjutan, dan menempatkan kelapa sawit sebagai pilar utama ekonomi hijau.

Dengan pesan yang tegas ini, IPORICE 2025 menegaskan posisi sawit sebagai solusi nyata menghadapi krisis energi global sekaligus mendukung ekonomi hijau dan kesejahteraan masyarakat, terutama petani kecil.