Depok, elaeis.co - Sertifikasi Indonesian Sustaibanle Palm Oil (ISPO) perlu digencarkan lagi sehingga produk crude palm oil (CPO) Indonesia bisa tetap bersaing di pasar global.

Demikian dikatakan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Prayudi Syamsuri.

Prayudi mengatakan itu saat pembukaan pelatihan calon asesor LSISPO yang berasal dari Ditjenbun, Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Komite Akreditasi Nasional (KAN), dan Kemenko Bidang Perekonomian di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Menurut Prayudi, dibutuhkan upaya percepatan untuk meningkatkan capaian sertifikasi ISPO terhadap pelaku usaha baik perusahaan maupun pekebun. Salah satunya dengan menambah jumlah asesor skema LSISPO.

“Asesor merupakan tonggak awal kegiatan akreditasi, yang berperan sebagai mata tangan dari sekretariat KAN dalam menilai layak tidaknya Lembaga Sertifikasi (LS) diberikan akreditasi," ungkapnya, dilansir elaeis.co dari website resmi Ditjenbun, Rabu (20/9).

Dikatakan, semakin banyak LSISPO yang terakreditasi tentu akan berdampak semakin banyak pilihan pelaku usaha untuk memilih LS yang akan melakukan audit sertifikasi ISPO pada unit usahanya.

Seperti diketahui, komoditas
kelapa sawit beserta turunannya sejauh ini tercatat masih menduduki lima besar produk ekspor unggulan Indonesia.

Salah satu strategi mempertahankan eksistensi kelapa sawit sebagai produk unggulan adalah memperbaiki tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Hal ini ditetapkan melalui Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan atau dikenal dengan ISPO.

Sistem sertifikasi ISPO merupakan instrumen untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan nasional di Indonesia, dan juga, sebagai bagian dari kepesertaan Indonesia untuk berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan pembangunan global Sustainable Development Goals 2030