Jakarta, elaeis.co - Anggota Komisi XI DPR RI, Sihar Sitorus, mengatakan yang lebih penting dari mengendalikan inflasi adalah mengantisipasi faktor terbentuknya inflasi sendiri.

"Adapun cara untuk mengantisipasi faktor tersebut adalah adanya sinergi antara pemerintah daerah (pemda) dengan Bank Indonesia (BI),'" kata politisi PDI Perjuangan itu di Jakarta, belum lama ini.

"Hal itu mengingat faktor inflasi ini merupakan lintas sektor yang membutuhkan sinergitas seluruh stakeholders terkait," imbuh Sihar, sebagaimana dikutip elaeis.co dari website resmi DPR RI, Sabtu (8/4) kemarin.

Tapi yang lebih menarik, menurut Sihar, adalah memahami terbentuknya inflasi itu sendiri, "Dan itu ternyata kita bisa melihat banyak faktor yang menyebabkannya," ia menambahkan.

Faktor dimaksud, menurutnya, mulai dari faktor mata rantai, pasokan suatu komoditas, beras misalnya atau telur atau cabai, kemudian  juga dipengaruhi ketersediaan produksi antar wilayah yang kemudian hasilnya itu juga lintas wilayah.

"Dari sisi konsumen sendiri juga ya, kalau kita melihat ya dari pandemi 2021 malah kita melihat inflasinya agak rendah dibandingkan 2022, ini juga perilaku konsumen ini juga turut menjadi faktor," sebutnya.

"Kemarin waktu pandemi fokusnya ada beberapa, tidak semuanya di komoditas. Tahun ini kita melihat  fokusnya banyak di komoditas beras, cabai, bawang putih, dan beberapa komoditas lain," ungkapnya.

Sementara itu, upaya dari pemerintah daerah dalam mengatasi lonjakan harga pangan dengan mengadakan pasar murah dinilai cukup efektif menetralisir kenaikan harga pangan di lapangan.

Meskipun sebetulnya Sihar berharap ketika momen Ramadan dan Idulfitri sudah terlewati, semua pihak dapat mencari jalan keluar dari mata rantai pasokan tersebut. 

"Jadi untuk suatu waktu terutama dalam hari raya besar, di mana kita banyak mengadakan acara itu menjadi sangat penting dan akhirnya itu bisa ternetralisir.  Tapi lebih daripada itu nanti setelah acara-acara besar ini selesai kemudian kita balik kepada normal, dan dalam posisi normal inilah kita yang harus memperhatikan mata rantai pasokan tersebut," tandasnya.

Sihar berharap agar pemda beserta BI dapat terus bersinergi mengatasi seluruh permasalahan inflasi, dan menginventarisasi komoditas yang mengalami surplus dan defisit dengan saling mengisi satu sama lain. 

"Untuk menginventarisir komoditas mana yang surplus dan defisit, ketika mengalami defisit tentunya harga ada kecenderungan naik, inilah kerjasama antar daerah itu yang perlu mana yang defisit dan mana yang surplus yang kemudian bisa saling mengisi terutama yang bertetanggaan," tutupnya.