Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Inventer Indonesia, Prof (Ris) Ir Didiek Hadjar Goenadi MSc PhD IPU INV, malah mengungkapkan lebih tajam berbagai kelemahan yang membuat hasil riset sawit sering tidak terkoneksi baik dengan kepentingan industri atau aspek komersialisasi.
Termasuk, kata dia, masalah umum yang dihadapi dalam komersialisasi invensi hasil Grant Riset Sawit (GRS) yang rutin digelar BPDPKS.
"Ada sejumlah masalah, termasuk di antaranya adalah rendahnya komitmen periset, termasuk respon yang lambat dan kurang profesional," ucap Didiek Hadjar Goenadi.
Lalu, ucapnya lagi, sering tim periset bubar setelah kegiatan riset selesai dengan laporan akhir atau publikasi ilmiah, serta kurang peduli terhadap keperluan untuk komersialisasi hasil riset yang dijanjikannya.
Baca juga: Dirut BPDPKS Turut Berjuang Menentang EUDR, dan Begini Hasilnya
Salah satu dosen pendamping para mahasiswa peserta Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang turut hadir dalam acara PERISAI 2024 membenarkan paparan Didiek Hadjar Goenadi.
"Iya benar, terkadang kami kalau habis menuntaskan sebuah penelitian, sering tidak kami lihat lagi kelanjutannya," ucap sang kepada elaeis.co dan seorang wartawan lainhya yang duduk dalam satu meja di acara tersebut.
"Ini karena kami harus melakukan pekerjaan kami lainnya selaku dosen di kampus kami. Kritik dari beliau-beliau itu tentu menjadi masukan berharga bagi kami," ucap perempuan yang tidak ingin disebut identiasnya tersebut.
Terungkap di PERISAI 2024, Ini Dilema dalam Riset Sawit Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini