Jakarta, elaeis.co - Dari catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), tiga tahun belakangan ekspor produk kelapa sawit ke negara Rusia terus tumbuh. Malah saat ini berpeluang hingga 1 juta ton.

Namun dijabarkan Ketua Umum Gapki, Eddy Martono peluang itu bukan tanpa tantangan yang menghadang. Ada tantangan besar yang perlu dicermati pemerintah Indonesia agar bisa menembus pasar Rusia lebih maksimal.

Pertama kata Eddy yakni sistem transaksi pembayaran, Rusia saat ini tidak bisa menggunakan fasilitas Letter of Credit (L/C) untuk bertransaksi. Ini dampak dari terus memanasnya perang Rusia-Ukraina.

"Jadi memang perlu solusi dari pihak perbankan agar mekanisme pembayaran ini selesai," terangnya kepada elaeis.co, Selasa (30/5).

Lalu tantangan berikutnya yakni Rusia tidak memiliki pelabuhan ekspor impor. Jika dipaksakan maka biaya untuk pengiriman CPO akan semakin tinggi. Bahkan tidak kecil kemungkinan terganggu.

Terkahir, yakni berita negatif terkait kelapa sawit masih terus menjadi momok bagi masyarakat Rusia. Dimana penduduk Rusia beranggapan bahwa minyak kelapa sawit tidak sehat. Padahal kata Eddy, minyak sawit bebas trans fat dan mengandung vitamin A serta E yang tinggi.

"Meraka produk sawit diimpor ke Rusia untuk digunakan oleh industri non-food seperti farmasi dan kosmetik. Karena dinilai tidak sehat," jelasnya 

Untuk diketahui ekspor produk sawit pada 2022 mencapai 668.340 ton. Sementara tahun sebelumnya yakni 2021, ekspor ke Rusia mencapai 695.570 ton. Jumlah itu terus meningkat jika dibandingkan tahun 2019 dan 2020 yang hanya 660.290 ton dan 684.470 ton.