Siak, elaeis.co - Tingginya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau tidak serta-merta membuat semua pihak bahagia. Saat ini, harga sawit di Riau ditetapkan Rp3.948,38/kg. Sebelumnya tembus Rp4.100/kg.

Di sisi ekonomi, petani kelapa sawit bisa saja usung dada. Sementara di pihak kepolisian, ada sedikit tingkat kewaspadaan karena tingginya harga TBS sawit berisiko meningkatnya angka peredaran narkotika. 

"Meski membawa dampak positif bagi ekonomi, kenaikan harga sawit juga berisiko meningkatnya angka peredaran narkotika," tegas Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan di Siak, Selasa (21/4). 

"Lakukan mitigasi terhadap peredaran narkoba secara serius. Jangan sampai kasus seperti di Panipahan Rohil terulang. Saya instruksikan untuk melakukan cek urine secara berkala kepada anggota. Jangan sampai ada personel yang terlibat," tambahnya. 

Oleh karena itu, Kapolda memberikan atensi khusus pada naiknya harga komoditas sawit. Sebab menurut Herry, moncernya harga sawit juga memicu masyarakat atau perusahaan untuk membuka lahan dengan cara membakar, terutama menjelang siklus Super El Nino.

"Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan (Karhutla), dilakukan secara adil dan terukur," katanya. 

Herry mengatakan, Polri harus memiliki sense of crisis, sebuah kemampuan untuk merespons cepat tanpa menunggu perintah, proaktif dalam melapor, dan memiliki pola pikir prediktif terhadap potensi gangguan di wilayah masing-masing.

"Tujuan saya hadir di sini (Siak), untuk memastikan kebijakan Kapolri berjalan dengan baik di lapangan. Kita harus memiliki kemampuan global security untuk mendeteksi dini risiko apa pun, baik sisi ekonomi dan lainnya," pungkasnya.