Bang Tungkot 

Dulu 'Sarang Dedemit' Sekarang 'Sarang' Duit

Dulu 'Sarang Dedemit' Sekarang 'Sarang' Duit
Kawasan Seberida indragiri Hulu (Inhu), Riau terus menggeliat setelah perkebunan dan pabrik kelapa sawit hadir di kawasan itu. foto: aziz

Jangan heran kalau daerah-daerah di sekitar perkebunan kelapa sawit lebih cepat berkembang dan maju ketimbang daerah non kelapa sawit. 

Soalnya hasil studi kami di PalmOil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) pada 2017, ternyata nilai transaksi antara masyarakat yang bekerja langsung dan tak langsung di perkebunan kelapa sawit dengan sektor perkotaan berada di sekitar Rp336 triliun per tahun. 

Lalu, nilai transaksi antara sentra-sentra produksi bahan pangan pedesaan dengan masyarakat yang hidup di perkebunan kelapa sawit mencapai Rp92 triliun per tahun. Kok bisa?

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan dua dari tiga fase proses berubahnya degraded land menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.  

Nah sekarang di fase ketiga; hadirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru. Seiring waktu, kebun kelapa sawit pun menghasilkan. Otomatis, pabrik untuk mengolah produksi ini sudah harus ada. 

Dengan hadirnya Pabrik Kelapa Sawit (PKS), maka hadir pula geliat ekonomi di sana dan geliat ini ternyata menggerakkan sektor ekonomi lain untuk nimbrung. 

Sektor jasa misalnya; transportasi angkutan Tandan Buah Segar (TBS) dari kebun ke PKS, transportasi CPO dari PKS ke pelabuhan CPO, keuangan/perbankan, suplier barang, perkantoran, perdagangan bahan pangan, warung atau restoran makan, perdagangan dan mobilisasi antar kota akhirnya kait mengait di sana. 

Baca juga: Pionir Ekonomi di Degraded Land

Kait mengait itu semakin hari semakin mengait aktifitas lain untuk nimbrung dan tumbuh di sana. Kait mengait inilah yang kemudian membuat daerah perkebunan kelapa sawit itu tumbuh pesat. 

Aglomerasi dua pola perkebunan kelapa sawit (pola BUMN-Plasma-Swadaya dan pola Korporasi swasta-Swadaya) dengan sektor-sektor jasa pendukung yang berkembang akhirnya menghadirkan kawasan agropolitan yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah itu.

Alhasil, daerah-daerah yang sebelumnya tergolong degraded land baik secara ekonomi, sosial dan ekologi kemudian direstorasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru kaena pengembangan perkebunan sawit itu. 

Sampai tahun 2013, setidaknya ada 50 kawasan pedesaan yang tadinya terbelakang atau terisolir yang sudah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru berbasis ekonomi sawit.
 
Makin banyak masyarakat berkecimpung di kawasan perkebunan sawit juga menunjukkan besarnya pasar bagi hasil pertanian, peternakan dan perikanan yang berasal dari daerah sekitar. 

Mau tak mau, perdagangan hasil pertanian, peternakan, perikanan ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis sawit itu ikut berkembang pesat. 

Sektor ekonomi perkotaan juga ikut menikmati perkembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis sawit itu. 

Sebab masyarakat yang hidup dari perkebunan sawit, melakukan transaksi perdagangan hasil industri dan apa-apa yang dibutuhkan di pusat pertumbuhan ekonomi baru tadi. 

Studi PASPI di tahun 2014 juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi (PDRB) kabupaten-kabupaten sentra sawit lebih cepat ketimbang kabupaten non sentra sawit. 

Pada level desa dan rumah tangga, studi Budidarsono et al pada 2012 juga mengungkapkan bahwa kesejahteraan desa-desa yang mayoritas penduduknya berkebun sawit lebih baik dibanding desa-desa non sawit. 

Tingkat pendapatan rumah tangga petani sawit lebih tinggi dari pada rumah tangga petani non sawit (Riffin, 2012; PASPI, 2014; Krisna, 2017; Budidarsono et al., 2012). 

World Growth pada 2011 juga mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit juga berperan signifikan dalam pembangunan ekonomi daerah pedesaan.

Daerah sentra perkebunan kelapa sawit yang sebelumnya digolongkan sebagai degraded land juga terbukti berkembang menjadi lokomotif dalam pengurangan kemiskinan di pedesaan. 

Peningkatan produksi perkebunan sawit mampu mengurangi kemiskinan pedesaan dan perkotaan (Susila, 2004; Susila dan Setiawan, 2007; PASPI, 2014). 

Bahkan penurunan tingkat kemiskinan di daerah sentra sawit lebih cepat ketimbang daerah non sentra sawit (Edwards, 2019). 



 

Editor: Abdul Aziz