Bang Tungkot 

Industri Ban Menyasar Minyak Nabati, Kenapa?

Industri Ban Menyasar Minyak Nabati, Kenapa?
ilustrasi ban. foto: ingrisk.co.id

Selama ini industri ban dunia memakai campuran 20% hingga 40% karet alam (natural sintetis) dan 60% sampai 80% karet sintetis (karet buatan). 

Karet sintetis diperoleh dari produk turunan minyak bumi. Besarnya komponen karet sintetis itu karena produk turunan minyak bumi melimpah dan murah dibandingkan karet alam. 

Belakangan, muncul masalah lingkungan, emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Inilah yang menjadi driver move on industri ban menyasar minyak nabati pengganti produk turunan minyak bumi itu. 

Sejak dulu orang sudah tahu bahwa 60%-80% emisi global bersumber dari penggunaan energi fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. 

Selain energi, dari sumberdaya fosil ini juga dihasilkan berbagai produk turunan yang kita kenal sebagai produk petrokimia yang penggunaannya luas. 

Sumberdaya fosil dan turunannya ini lah yang bertanggung jawab atas pemanasan global dan perubahan iklim dunia yang kita alami saat ini. 

Kesadaran masyarakat dunia pun akhirnya datang untuk sepakat keluar (phase out) dari sumberdaya fosil itu. 

Kini energi fosil telah digolongkan bukan hanya energi kotor tapi juga sun set industri. Industri migas dan batubara beserta petrokimia turunannya secara bertahap harus ditinggalkan demi keselamatan umat manusia di planet bumi. 

Nah, tantangan bagi industri ban dunia adalah mengganti 60%-80% karet sintetis yang tidak ramah lingkungan itu dengan minyak nabati yang secara kimiawi lebih dekat dan lebih ramah lingkungan. 

Industri ban Goodyear memilih memakai minyak kedelai karena itu yang tersedia di USA. Industri ban Bridgestone Jepang kemungkinan besar akan memakai minyak sawit. 

Industri ban di Eropa pasti bingung. Mau memakai minyak rapeseed dan sunflower, untuk pangan saja kurang. Uni Eropa akan menjilat ludahnya sendiri kalau kemudian memakai minyak sawit.

Peluang industri ban ini mestinya dimanfaatkan oleh Indonesia. Kita punya karet alam, dan minyak sawit terbesar dunia. Bagaimana caranya agar industri ban dunia pindah ke Indonesia, ini yang sangat penting.  

Dan kita juga produsen nikel terbesar dunia, dengan begitu, kita juga bisa menjadi industri batteray mobil terbesar dunia. 

Indonesia berpeluang menjadi raja ban dunia, raja biofuel dunia dan raja batteray dunia. Biarkan USA, Uni Eropa, Jepang, Korsel, China bersaing membuat mobil, tapi Indonesia  menyediakan ban, biofuel, dan batteraynya. Ini yang dari dulu kita sampaikan. tapi belum ditangkap pemerintah.


 

Editor: Abdul Aziz