Pasaman Barat, elaeis.co - Syafridal, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apksindo) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mengaku para petani sawit di Pasbar sangat terbantu dengan penerapan sistem tumpang sari di lahan perkebunan dengan tanaman lain.
"Buktinya, sebagian besar kebun kelapa sawit yang dalam proses peremajaan di daerah ini melakukan sistem tumpang sari, umumnya dengan tanaman jagung dan padi," ungkap Syafridal kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Rabu (1/3).
Syafridal ditanya soal itu menyusul setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasbar menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR). Pasbar dinilai sukses mengembangkan sistem tumpang sari dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Syafridal memastikan, selain mendatangkan nilai tambah ekonomi, sistem tumpang sari yang dilakukan para petani kelapa sawit di Pasbar tidak sampai mengganggu tanaman inti, yaitu kelapa sawit.
Karena, menurut Syafridal, kegiatan tumpang sari dilakukan setelah sawit yang berumur tua ditebang, dan sebelum bibit sawit yang baru ditanam tumbuh tinggi.
"Pokoknya, begitu lahan sudah dibersihkan, langsung dilakukan sistem tumpang sari," kata Syafridal, yang juga anggota DPRD Pasbar itu.
Kenapa sebagian besar petani di Pasbar memilih padi dan jagung untuk tanaman tumpang sari, Syafridal mengatakan karena pertimbangan nilai ekonominya. Ia menyebut contoh komoitas jagung. "Sebagian pasokan jagung untuk pakan ternak di Kabupaten Limapuluh Kota didatangkan dari sini," ungkapnya.
Apkasindo Pasbar Sebut Petani Sawit Sangat Terbantu dengan Sistem Tumpang Sari
Diskusi pembaca untuk berita ini